“Takjub dan Menaati”

“Takjub dan Menaati”

“Takjub dan Menaati”

Minggu, 28 Januari 2024

UI. 18:15-20; 1 Kor. 7:32-35; Mrk. 1:21-28 (SM)

Setelah memanggil murid-murid pertama-Nya, Yesus dan para murid, langsung menuju ke Kapernaum, yang berjarak sekitar 65 KM di bagian Utara danau Galilea. Kapernaum, yang berarti desa Nahum (bukan dari nama nabi Nahum), disebut sebagai "kota Yesus". Karena, selama masa pengutusan-Nya sekitar 3 tahun, maka dapat dikatakan: Kapernaum merupakan 'markas' pewartaan Yesus dan murid-murid-Nya.

Di sebuah sinagoga di desa itu, di hari Sabat, Yesus diberi kesempatan untuk mengajar. Apa yang terjadi pada diri umat di situ? Mereka takjub!, karena Yesus mengajar penuh kuasa, berbeda dengan para ahli Taurat. Lebih dari takjub, mereka juga membicarakan isi pengajaran Yesus, dengan mengatakan, "Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa!" Bahkan, roh-roh jahat pun 'mendengar' bentakan-Nya, dan taat akan perintah yang diberikan, walau dengan sedikit usaha untuk 'melawan'. Perlawanan roh-roh jahat itu tercermin dari perkataan mereka, begitu mereka tahu bahwa Yesus adalah "Yesus orang Nazaret', "Yang Kudus dari Allah". Dari peristiwa di Kapernaum ini, dapatlah kita memetik, paling tidak, 2 makna. Adalah ironis bahwa Yesus itu 'Yang Kudus dari Allah' justru roh­roh jahat yang dahulu tahu daripada umat yang di sinagoga itu. ltu yang pertama. Kedua, bahwa roh jahat, dengan ucapannya mencoba 'menjebak' Yesus dengan 'pujian' "Yang Kudus dari Allah". Namun, Yesus menyadari hal ini, dan segera mengusirnya.

Jika kita coba sedikit mendalami Bacaan pertama, maka kita akan mendapat informasi bahwa Yesus lah yang dimaksud dengan "Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudaramu, seperti aku ini, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu. Dialah ".yang harus kamu dengarkan."(ay. 15).

Musa mengatakan hal itu di hadapan bangsa­Nya, yang akan segera memasuki tanah terjanji. Kata-kata pengajaran Yesus adalah firman Allah, perintah yang harus ditaati umat Israel, juga seluruh umat manusia! (bdk. ay. 18). Sedangkan Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus tentang adanya perbedaan antara hidup selibat don hidup sebagai suami-istri. Waiau kedua pola kehidupan itu berbeda, namun keduanya sama-sama merefleksikan kemuliaan Allah dan saling melengkapi serta membutuhkan satu sama lain.

Apa yang bisa menjadi 'inspirasi' dan sekaligus motivasi agar kita menjadi umat yang takjub akan pengajaran Yesus serta mentaatiny,a? Pertama, penginjil Markus menyampaikan bahwa "pengajaran baru" yang dikomentari umat di sinagoga itu adalah, sabda Yesus, "Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat dan percayalah kepada lnjil."(Mrk .. 1:15). Kata-kata yang akan kembali akan kita terima, sekitar 2 minggu dari sekarang. Di Hari Rabu Abu, Namun, bukankah kita bisa percaya kepada lnjil mulai dari sekarang ?. Kedua, kita bisa tergelincir dalam melayani atau mewartakan Sabda Yesus, seperti yang dicoba dilakukan oleh roh jahat, sebelum diusir. Maksudnya? Bukankah roh jahat itu memuji dengan mengatakan di depan umat di sinagoga "Yang Kudus dari Allah'? lni sungguh godaan yang kuat! Ketika kita merasa sudah melayani dengan sungguh dan dipuji orang, maka ada risiko untuk menjadi merasa 'hebat'. Waspadalah! Ketiga, sesuai dengan motivasi yang diberikan oleh Rasul Paulus, apakah kita hidup berkeluarga, normal atau hidup selibat, seperti beberapa saudara, kita bisa saling­membutuhkan dan sama-sama memuliakan Allah. Pilihan jalan kehidupan justru memperkaya iman kehidupan manusia.

Selamat bersukacita merayakan Ekaristi di Minggu Biasa keempat, bersama semua saudara. Dan, marilah turut serta melambungkan pujian don permohonan, "Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan, jangalah bertegar hati." (Mzm.95:8).