“Tekun Berdoa, Sabar Menanti”

“Tekun Berdoa, Sabar Menanti”

Hari Minggu Biasa XXIX

“Tekun berdoa, sabar menanti”

(Kel. 17:8-13; 2Tim. 3:14 - 4:2; Luk. 18:1-8)

“Pertolongan kita dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” Itulah yang kita senandungkan sebagai refren Mazmur tanggapan(Mzm. 121:2). Itulah pula yang selayaknya menjadi fokus utama permenungan kita, terhadap Injil suci dan Bacaan di Minggu Biasa ke Dua puluh sembilan tahun ini. Tahun, yang seturut Penanggalan Liturgi dinamai tahun C-II. Dan karena tahun C, maka Injil suci yang dibacakan yang menurut Lukas, seorang pengisah yang ulung. Apa yang dikisahkan Lukas kali ini? Tak lain berupa bagian dari pengajaran Yesus kepada para murid. Para Rasul, sungguh disiapkan untuk menjadi Pewarta tangguh, yang tidak lama lagi akan ‘ditinggalkan’ oleh Sang Guru Agung. Sang Mesias sedang menuju Yerusalem untuk menuntaskan perutusan-Nya. Dan nantinya, para Rasul tersebar ke seluruh penjuru dunia. Apa ‘pokok’ pengajaran kali ini? Jika kita cermati perikop Injil-nya, maka dapatlah dikatakan ada dua yang diajarkan. Satu, “mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu”, dan, kedua, ‘keinginan’ Yesus untuk mendapati “iman di bumi”, Ketika Ia, Anak Manusia, datang kembali(parosia)!

Terhadap pengajaran ini, bisa jadi timbul pertanyaan: mengapa Yesus memakai perumpamaan tentang “seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun?“ dan, mengapa pula ‘diperhadapkan’ dengan seorang janda? Bukankan ini sangat kontras? Bagaimana mungkin seorang janda,yang dimasa itu termasuk kelompok umat yang ‘tidak dipandang’, yang lemah, melawan seorang hakim yang begitu ‘percaya diri’, yang lalim!? Ternyata, sang hakim mampu ‘ditaklukkan’, dalam arti, ia memenuhi permintaan sang janda! Mengapa sang hakim itu akhirnya mengalah? Karena ketekunan sang janda, yang di perikop ditulis, “…yang selalu datang kepada hakim itu untuk membela haknya.”

Mengenai pertolongan Tuhan, diceritakan juga dalam Bacaan pertama. Bangsa Israel yang sedang berperang melawan bangsa Amalek mendapatkan bantuan Allah, sehingga bisa menang. Ditulis di situ bahwa jika Musa mengangkat tangannya, maka bangsa Israel lebih kuat. Begitu pula sebaliknya. Karena ‘mengangkat tangan’ bisa lelah, maka Harun dan Hur menopang kedua tangan Musa. Mengenai “mengangkat tangan” ini, bukankah itu lambang menaikkan doa kepada Allah?

Inspirasi apa yang dapat kita petik dari Injil suci dan Bacaan untuk Minggu ini? Pertama, berdoa, memuji dan memohon pertolongan Tuhan dilakukan dengan tak jemu-jemu. Umat manusia yang lemah, ibarat sang ‘janda’, sangat membutuhkan pertolongan Tuhan. Dan, doa yang tekun sekaligus menandakan iman kepada Sang Penebus, Tuhan Yesus: “Pertolongan kita dari Tuhan”. Tuhan yang Maha kuasa, “yang menjadikan langit dan bumi”. Kedua, dalam memohon atau memanjatkan permintaan, sekaligus kita diingatkan untuk bersabar hingga Tuhan “tergerak oleh belas kasihan”. Namun, tetaplah kita percaya bahwa Tuhan Yesus mendengarkan doa kita, seperti tertulis, ‘Ia akan segera membenarkan mereka yang siang malam berseru kepadaNya’. Ketiga, salah satu cara berdoa yang tekun ialah dengan mendengarkan sabda-Nya, seperti yang dinasihatkan Rasul Paulus kepada Timotius( bdk. 2Tim 3:16).

Akhir kata, “Selamat merayakan Ekaristi Hari Minggu Biasa yang keduapuluh sembilan, sambil dengan tekun memohon pertolongan Tuhan, “Pertolongan kita dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.”