Tetap Menyatu

Membaca bacaan-bacaan Minggu ini, utamanya bacaan Injil membuat kita sempat terharu. Bagaimana tidak, Yesus yang sesaat lagi akan menyelesaikan karya penyelamatannya didunia berdoa kepada Bapa-Nya agar Para Rasul dan semua yang percaya atas pemberitaan mereka tetap berada dalam kesatuan yang utuh. Yesus tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi atas diri-Nya, namun hal itu tidak berpengaruh negatif sedikitpun atas kekuatan Kasih-Nya.


Bagi kita saat ini semuanya sudah sangat jelas bahwa Bapa di Surga-lah yang mengutus Yesus dan melalui Yesus Putra-Nya inilah karya Kasih Allah yang mengagumkan boleh dirasakan oleh manusia. Secara gemilang, Yesus telah mengalahkan maut dan kita boleh hidup dalam terang keselamatan. Kita telah memperoleh kembali apa yang hilang akibat dosa yaitu hidup kekal. 


Pertanyannya adalah; apakah persatuan antara Bapa, Putera, Roh Kudus dan kita semua umat-Nya yang percaya karena pewartaan Para Rasul dapat terwujud sekarang ini di dunia ? Ataukah itu hanya gambaran Yesus kelak jika masing—masing dari kita sudah kembali kepada-Nya dan hidup bersama di Surga ? Pertayaan ini tidak sulit untuk dijawab karena Gereja mengajarkan bahwa “Oleh perayaan Ekaristi kita sudah menyatukan diri sekarang ini dengan liturgi surgawi dan mengenyam lebih dahulu kehidupan abadi, di mana Allah akan menjadi semua untuk semua” (KGK 1326). 


St. Thomas dari Aquino, seorang Pujangga Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Sakramen Ekaristi merupakan makanan bagi hidup rohani karena dari Sakramen inilah mengalir segenap kesempurnaan jiwa. Maka, dari semua sarana yang bisa dipakai untuk persatuan dengan Allah, tiada yang lebih baik selain Komuni Kudus. Orang Kudus yang lain yaitu St. Sirilus dari Aleksandria mengajarkan bahwa seperti dua buah lilin melebur bersama menjadi satu, begitu juga kita, oleh Komuni Suci, dengan cara yang sama bersatu dengan Yesus Kristus.


Umat Tuhan yang terkasih, kita bersyukur sebagai orang Katolik ditempatkan oleh Tuhan pada posisi yang begitu istimewa di hadapan-Nya. Tuhan menempatkan diri-Nya begitu dekat dengan kita umat-Nya agar kita dapat menimba rahmat sebanyak yang kita butuhkan untuk hidup di dunia ini. Ekaristi adalah cara Tuhan untuk mengkomunikasi diri-Nya yang hadir begitu dekat dan ada bersama kita. Sayangnya, banyak dari kita yang belum memahami hal luar biasa ini. Mari mulai saat ini, saat menghadiri Ekaristi bukan saja hadir untuk absen semata sebagai orang Katolik, tetapi sungguh sebagai ungkapan kerinduan kita untuk selalu bersatu dengan Sang Ilahi. 


Selamat hari Minggu – Tuhan memberkati