“The Law Of Harvest”

“The Law Of Harvest”

Renungan Harian, 19 September 2020

“The Law Of Harvest”

1 Korintus 15:35-49; Mazmur 56:10-14; Lukas 8:4-15

Saudara terkasih, sedikit dari kita saat ini menggantungkan mata pencaharian  sebagai petani.  Budaya bercocok tanam adalah budaya yang dekat dengan alam bahkan sangat mengandalkan anugerah Tuhan untuk memperoleh panen yang baik.  Dalam budaya pertanian “The Law Of Harvest” (hukum panen), adalah budaya penting yang harus tertanam dalam setiap diri petani. Petani harus berupaya keras untuk menggarap tanah, menebar bibit, memelihara tanaman hari demi hari, namun hasil panen akan tergantung pada kondisi alam (Kehendak Tuhan).

Kiranya budaya diatas digunakan oleh Paulus dalam surat pertamanya pada jemaat di-Korintus, untuk menjelaskan mengenai tubuh apakah yang dikenakan pada orang yang dibangkitkan nanti ?.  Ia menjelaskan bukan tubuh tanaman yang tumbuh, namun biji yang tidak berkulit, artinya biji harus mati dulu kemudian akan tumbuh. Dijelaskan bahwa tubuh jasmani yang mati akan digantikan tubuh rohani yang baru seperti halnya tubuh para malaikat yang tidak akan pernah mati.

Dari tulisan ini kita bisa mengerti sesempurna apapun tubuh kita saat ini pada saatnya akan hancur dan digantikan dengan tubuh yang lebih sempurna, sebaliknya ketidaksempurna apapun, tetap akan digantikan dengan tubuh yang lebih sempurna pada waktunya.

Dalam Injil, Yesus juga menggunakan benih sebagai perumpamaan bagaimana kita menanggapi Injil yang ditebar (benih). Permukaan tanah mewakili tanggapan kita terhadap bibit tersebut, dimana pertumbuhannya akan sangat tergantung kepada penerimaan kita dalam melaksanakan kehendak-Nya.

Permukaan tanah yang terbaik adalah tanah yang subur, dimana kesuburan itu sendiri merupakan kondisi dari tanah sekitar serta alam,  sehingga kita bisa menjadi subur.  Atau dengan kata lain tanah sendiri sangat tergantung pada unsur-unsur alam yang lain.

Persepsi saya atas perikop-perikop diatas, kita hidup saling tergantung satu dengan yang lain, baik terhadap alam, maupun terhadap sesama kita, bahkan terhadap hal-hal lain baik hewan, tumbuhan, bakteri bahkan pada virus yang saat ini menunjukan eksistensinya. Sehingga menjaga keseimbangan hidup akan menjadi kunci dalam kehidupan yang lebih baik. Hal ini juga terungkap dalam keinginan kita melalui BKS 2020  untuk menjadi umat yang saling berbelarasa dan menjadi saudara dalam penderitaan.

Kiranya kita bersama ditantang untuk mewujudkan dan juga diingatkan untuk saling menguatkan agar dapat mewujudkan secara bersama-sama, Amin.

@dlafevermore.