“Waspada dan Berjaga-jaga”

“Waspada dan Berjaga-jaga”

Hari Minggu Biasa XIX

“Waspada dan berjaga-jaga”

(Keb. 18:6-9; Ibr. 11:1-2,8-12; Luk. 12:32-48)

Bacaan Injil suci menurut Lukas untuk Minggu Biasa ke-19 ini, bisa kita bagi menjadi tiga bagian. Pertama, bagi setiap orang yang mencari Kerajaan Allah, Yesus meneguhkan untuk “tidak usah kuatir”. Karena, segalanya akan ditambahkan. Mereka juga diajarkan untuk mengumpulkan harta yang tidak dapat dicuri orang atau pun dirusak ngengat. Caranya? Memberikan sedekah, salah satunya.

Kedua, ajaran agar “pingggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” Kedua hal ini menandakan bahwa seorang pelayan yang senantiasa siap untuk tugas- tugasnya. Termasuk menanti-nantikan tuannya, yang tidak tahu kapan akan kembali. Namun, tuannya pasti akan kembali! Dan, ketika pintu diketok, dia sudah siap membukakan pintu. Dan mereka akan disebut bahagia, karena didapati sang tuan sedang berjaga. Pertanyaannya adalah, kapan sang tuan akan datang? Tak seorang pun yang tahu! Bisa sewaktu-waktu. Menyadari ‘tak tahu’ itu, maka selayaknya waspada! ibarat pelita selalu menyala. Sambil tetap melakukan tugas-tugasnya, siap-siap jika sang waktu tiba.

Mendengarkan pengajaran itu, Petrus bertanya apakah itu untuk mereka atau semua orang? Yesus tidak langsung menjawab, malah bertanya, “Jadi, siapakah pengurus rumah tangga yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?” Yaitu dia, yang didapati tuannya melakukan tugas itu: memberikan makanan, pada waktu tuannya datang. Ketiga, namun, bisa juga terjadi dimana hamba yang diberi tugas itu berbuat jahat, karena merasa sang tuan tidak juga datang. Maka dia memanfaatkan ‘kedudukannya’ dengan memukuli para hamba serta makan minum serta bermabuk. Jika sudah begini, mungkinkah dia waspada dan berjaga-jaga? Dia akan mendapatkan hukumannya!

Maka, timbul tanya: apa dasar untuk tetap waspada dan berjaga? Dalam Bacaan kedua, dikisahkan bagaimana kiprah Abraham sebagai bapa orang beriman, termasuk juga Sara. Karena iman,mereka tetap berharap akan janji Allah. Janji yang seolah tak kunjung terwujud. Mereka percaya bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Inspirasi apa yang dapat kita petik dari Injil suci dan Bacaan untuk Minggu Biasa kali ini? Menurut Lukas, sang penulis perikop Injil suci ini: Yesus mengajarkan kewaspadaan sebagai sikap hidup yang sebaiknya dipegang para murid-Nya. Terutama yang bertugas melayani umat. Atau, dalam istilah masa kini, setiap pelayan umat berusaha lebih proaktif. Karena kita hidup ditengah-tengah macam kekuatan, termasuk yang mengganggu kehidupan bersama. Dan, seorang pelayan yang waspada, senantiasa berjaga-jaga, tentulah akan menemukan jalan (untuk setiap permasalahan). Sejauh dia berpegang pada iman, pada ajaran sang Juru Selamat, dia tidak perlu takut. Dan,kewaspadaan itu bisa tumbuh jika dia belajar mengenali gerak-gerik Roh.

Selamat merayakan Ekaristi Hari Minggu Biasa yang kesembilan belas, dan ikut melantunkan: “Berbahagialah bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya?”