“Yesus Kristus, Sang Raja Sejati”

“Yesus Kristus, Sang Raja Sejati”

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam

“Yesus Kristus, Sang Raja Sejati”

(2Sam. 5:1-3; Kol.1:12-20; Luk. 23:35-43)

Hari Minggu ini, kita merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus, Raja Alam Semesta. Akhir minggu ini, Minggu Biasa ke-34, menandai berakhirnya Penanggalan Liturgi tahun C-2, sekaligus permulaan Penanggalan Liturgi tahun A-1. Ditulis A-1 karena jatuhnya pada tahun ganjil 2023, dan Injil utamanya menurut Matius. Dan juga, seperti lazimnya, diawali dengan masa penantian, masa Adven.

Kembali ke Bacaan. Setelah melalui pengadilan yang tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya, Yesus dihukum dengan disalib. Di kanan dan kiri ikut disalibkan dua orang terhukum lainnya. Seturut tradisi, nama kedua orang itu adalah Dismas, yang di kanan, dan Gestas, yang di kiri (bdk. Katakombe.org). Tempat penyaliban disebut tempat Tengkorak, mungkin berkaitan dengan bentuk bukit yang mirip tulang kepala. Atau, mungkin juga karena sudah lama menjadi tempat eksekusi orang-orang hukuman (banyak tengkorak).

Perikop suci menurut Lukas, bercerita ketika Yesus disalibkan, yang ‘dinyinyiri’ oleh beberapa kelompok masyarakat: orang banyak yang melihat peristiwa itu, para pemimpin mereka mengejek, juga prajurit-prajurit yang ikut mengolok dan memberikan anggur asam. Ada lagi penjahat yang di sebelah kiri, ikut menghujat Dia. Namun, siapakah Raja Semesta Alam? Tidak lain adalah Yesus Kristus. Walau pun dalam nuansa ejekan, toh Pilatus menyuruh menulis INRI, Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum, “Inilah raja orang Yahudi.” Namun, Yesus jelas mengatakan, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini” (bdk. Yoh. 18:36). Dan, dalam perikop singkat ini, terdapat satu dari “tujuh perkataan Yesus ketika di salib”. Yaitu, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Jika dipikir menurut akal manusia, mana mungkin seorang raja bersedia memaafkan, apalagi mengampuni orang-orang yang berbuat jahat kepadanya? Itulah yang membedakan Sang Raja Semesta Alam dengan raja dunia, bahkan raja seperti Daud.

Bacaan pertama, yang singkat, mengisahkan peristiwa Ketika semua suku Israel, diwakili para tetua, menghadap Daud di Hebron. Mereka berkata bahwa “kami ini darah dan dagingmu” kepada raja Daud. Dan, Daud menjadi Raja bagi seluruh Israel.

Inspirasi apa yang dapat kita petik dari Injil suci dan Bacaan untuk Minggu ini? Pertama, semoga, setiap umat semakin diteguhkan bahwa Yesus Kristus sang Raja Semesta Alam adalah Maha rahim, Maha pengampun. Dismas, yang menjadi Santo, yang mengaku-menyesal-dan-meminta ‘diingat’, “hari ini” juga bersama Yesus di Firdaus (namun bukan berarti baru tobat di saat-saat akhir).

Kedua, sungguh tidak mudah memahami karya penyelamatan Allah. Yesus yang tiada berdosa, harus merelakan nyawa di kayu salib, walau salib itu menandakan keagungan-Nya. Namun, kita bisa memetik hikmat dari nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose yang disukainya. Paulus mengatakan bahwa Yesus adalah Kristus bagi alam semesta. Dalam dan melalui Dia, segenap insan di dunia diperdamaikan dengan Allah.

Ketiga, baik Injil suci maupun Surat kepada jemaat di Kolose bisa menjadi bahan refleksi yang baik bagi para pemimpin masa kini. Para pemimpin, yang waktu itu mengejek Yesus dikarenakan: yang ada dalam pikiran mereka hanyalah semangat menyelamatkan diri (dari penjajah Romawi). Kepentingan mereka, dirinya, keluarga atau teman-teman dekat, yang utama. Semoga, setiap pemimpin masa kini mengikuti model kepemimpian Yesus: pelayanan dan pengurbanan diri (bagi orang lain/banyak).

Akhir kata, “Selamat merayakan Ekaristi Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, sambil dengan gembira ikut melantunkan mazmur bagi-Nya, “Mari kita pergi ke rumah Tuhan dengan sukacita.” (Mzm. 122:1).