“Berbuah Dalam Masa Penantian”

“Berbuah Dalam Masa Penantian”

Minggu Adven II

“Berbuah Dalam Masa Penantian”

(Yes. 11:1-10; Rm.15:4-9; Mat. 3:1-12)

Jika kita mencoba mencari informasi historis tentang ‘kemunculan’ Yohanes pembaptis di tepi sungai Yordan, maka mulanya bisa dengan info usia Yesus, ketika memulai karya-Nya. Yaitu saat Ia, Yesus, berusia kira-kira tiga puluh tahun (bdk. Luk. 3:23). Jika kita menerima pendapat sebagian ahli Kitab Suci bahwa Yesus lahir tahun 6 sM, maka peristiwa pembaptisan itu, terjadi sekitar tahun 24 Masehi. Dan, jika Yesus termasuk dalam rombongan pertama yang dibaptis, maka Yohanes memulai pembaptisan sekitar tahun itu, 24 Masehi. Jadi, hampir dua milenia yang lalu dari saat ini. Masih berartikah peristiwa itu? Terpulang kepada kita untuk menjawabnya. Untuk sementara, cukuplah bagi memenuhi keinginan tahu. Karena yang menjadi fokus Injil suci menurut Matius untuk Adven Minggu kedua adalah “pesan dari seruan pertobatan” yang disampaikan melalui sang Pembaptis, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” (ay.3:2). Singkat, padat! Inti pewartaan Yohanes ini sama persis dengan inti berita yang dibawa Yesus dan para Rasul: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.” (bdk. 4:7 dan 10:7). Semua umat yang datang kepada sang Pembaptis diminta untuk ‘berbalik’, kembali kepada Allah, yang Kerajaan-Nya sudah dekat. Dan, memang banyak yang datang. Termasuk orang Farisi dan Saduki. Walau mereka merasa bahwa sebagai keturunan Abraham, mereka telah diselamatkan, Yohanes mengatakan dengan keras bahwa mereka pun tidak akan luput dari murka di masa mendatang, jika tidak segera bertobat. Karena soal pertobatan tidak berurusan dengan keturunan, tetapi lebih kepada “menghasilkan buah sesuai dengan pertobatan”. Dingatkan pula, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon”, yang artinya, jika tidak berbuah, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Begitu juga, “alat penampi sudah ditangan-Nya” yang mengingatkan bahwa “penyaringan” akan dilakukan!

Bagaimana kita mencoba memahami ‘pengumuman’ tentang kedatangan Kerajaan Surga itu? Juga seruan agar bertobat?  Jika memakai bahasa sekarang, seruan itu sama dengan ajakan untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam diri kita dan dunia sekitar. Bacaan pertama, dengan nada penuh berharap, menubuatkan kedatangan Raja Damai, keturunan Isai. Raja yang bijaksana dan banyak sifat baik lainnya, yang akan menjadi pangkal harapan orang banyak. Dengan memahami hal ini, semoga membantu untuk memaknai ‘warta’ itu.

Inspirasi apa yang bisa kita petik dari Injil suci dan Bacaan untuk Minggu ini? Pertama, Allah yang kasih-Nya tak berkesudahan, senantiasa mengingatkan kita untuk ‘kembali’ ke Kerajaan-Nya. Kali ini, melalui seruan Yohanes pembaptis. Allah begitu mengasihi seluruh ciptaan-Nya walau manusia sering ‘berpaling’.

Kedua, ketika seseorang merasa menyesal akan perbuatannya dan menyadari hal itu sebuah dosa dan ia ingin kembali ‘berbalik’, maka perikop untuk minggu ini mengingatkan bahwa yang dihasilkan selayaknya “buah yang sesuai dengan pertobatan”.

Ketiga, sebagai bagian dari masa penantian, maka selaras dengan seruan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, Bacaan kedua, kita diajak supaya “… berpegang teguh pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.” Alkitab berisi Sabda Sang Juru Selamat kita.

Akhir kata, “Selamat merayakan Ekaristi Minggu Adven kedua, sambil dengan gembira ikut melantunkan mazmur bagi-Nya, “Keadilan berkembang pada zamannya, dan damai sejahtera akan berlimpah sampai selama-lamanya.” (Mzm. 72:7).