“Beriman Disertai Perbuatan”

“Beriman Disertai Perbuatan”

HARI MINGGU BIASA XXIII, HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

“Beriman Disertai Perbuatan”

(Yes. 35:4-7a; Yak. 2:1-5; Mrk.7:31-37)

Jika ada umat yang bertanya, “Bagaimana caranya agar dapat memahami Injil Suci menurut St. Markus? Apa yang dilakukan agar pemahaman yang tepat dapat diterapkan dalam perilaku sehari-hari?” Untuk menjawab dua tanya itu, baiklah jika kita belajar dari Bapak Uskup Igantius Kardinal Suharyo, yang adalah pakar Kitab Suci. Dalam serial Api Karunia Tuhan, Bapak Uskup Kardinal menguraikan: adalah baik jika kita memulai dengan mencoba memahami apa tujuan penulisan oleh St. Markus. Dan, tujuan itu, diwakili oleh ayat pertama dari bab pertama kitabnya: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa seluruh isi Injil Suci oleh St. Markus adalah membicarakan tentang Yesus: kisah kehidupan dan karya-Nya. Siapakah Yesus? Ada tertulis, warta gembira oleh malaikat Gabriel kepada Yusuf,anak Daud, “…dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (bdk. Mat. 1:21). Jadi, namanya adalah Yesus. Jika begitu apa itu Kristus? dan, Anak Allah? Kedua kata itu bukanlah nama, namun gelar yang dimiliki oleh Yesus.

Hal lain yang dapat kita amati adalah: Injil suci ini adalah kisah yang bergerak cepat ? Apa maksudnya? Begitu mulai membaca, maka kita disuguhkan kisah tentang Yesus yang dibaptis oleh Yohanes. Terus, lanjut menyepi di padang gurun, sebelum memulai pengutusan-Nya, dengan langsung memanggil para murid. Beda dengan dua Injil Sinoptik lainnya, Matius dan Lukas, yang memulai dengan silsilah dan masa kecil Yesus.

Begitu pula yang dapat kita amati pada Injil Suci untuk Minggu Biasa XXIII ini. Setelah Yesus mengajarkan tentang hal ‘najis dan haram’, dalam Injil untuk minggu lalu, Yesus mengajak murid-murid-Nya ke Tirus, dan menyembuhkan anak perempuan seorang Siro-Fenesia, yang kerasukan roh jahat. Anaknya diselamatkan oleh Yesus karena iman sang ibu. Dari situ, melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis (artinya, sepuluh kota). Dengan begitu, Yesus dan para murid ke utara dulu, sebelum memutar menuju Galilea. Adakah pesan yang tersembunyi dari pilihan rute ini? Kota Tirus dan Sidon, yang terletak di pesisir laut Tengah, adalah kota-kota non-Yahudi. Dengan mengambil rute ini, Yesus memberi pesan bahwa pengutusannya bukan hanya kepada Israel, tetapi kepada seluruh bangsa. Penyembuhan bagi seorang ‘yang tuli dan gagap’, di daerah Dekapolis, menegaskan pengutusan-Nya! Ke berbagai bangsa. Mari kita cermati bagaimana peristiwa penyembuhan ini. Yesus, pertama, memisahkan orang tuli-gagap itu dari orang banyak. Setelah itu, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidah orang itu. Dan, menengadah ke langit, menarik nafas, dan berkata kepadanya:“Efata”, Terbukalah !

Penyembuhan ini, ternyata sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya, ketika berkata, “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.” (Yes. 35:5, Bacaan pertama). Yesaya seorang nabi. Nabi, yang berasal dari kata Yunani, prophetes, yang artinya orang yang berbicara atas nama Tuhan. Jadi, warta yang disampaikan nabi Yesaya adalah penggenapan janji Yahweh kepada umat pilihan-Nya. Dan, dalam Perjanjian Baru, janji itu digenapi oleh Yesus, Penyelamat umat manusia dari dosa.

Inspirasi apa yang dapat kita maknai dari Injil Suci dan Bacaan lainnya untuk Minggu ini? Dari Injil Suci menurut Santo Markus kita diingatkan bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Tanpa memandang latar belakang seseorang. Seperti yang dialami wanita Siro-Fenesia, yang memperlihatkan iman yang kuat. Sedangkan dari proses penyembuhan seorang tuli-gagap, kita dapat menarik hikmat! Yesus menengadah ke langit. Penyembuhan itu merupakan karunia dari Allah. Mencermati bahwa yang pertama dibukakan adalah telinga, kita diwarisi pesan: bahwa mendengarkan! adalah yang pertama selayaknya dilakukan, sebelum pengikat lidahnya dilepaskan. Mendengarkan, barulah mewartakan. Dan, pewartaan kita, hendaklah disertai perbuatan, seturut yang disampaikan Rasul Yakobus, “jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati (Yak. 2:17).