“Berjaga dan Bersiaplah”

“Berjaga dan Bersiaplah”

Berjaga dan Bersiaplah”

Hari Minggu Biasa XXXII

Minggu, 12 November 2023

(Keb. 6:13-17; 1Tes. 4:13-18; Mat. 25:1-13)

Mzm. 63:2,3-4,5-6,7-8

Jika ada yang bertanya, apa itu kebijaksanaan? Untuk itu, sebaiknya dicarikan jawaban dari sumber yang dipercaya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ditulis: “kepandaian menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), atau kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya.” Dengan begitu, disamping memiliki kepintaran (akal) seorang bijak juga mengandalkan kearifan. Dalam situasi religius atau iman, maka seorang yang bijaksana menggunakan nurani (iman) disamping akal sehat.

Kebijaksanaan menjadi tema sekaligus fokus perenungan kita di Minggu Biasa ke-32, yang tinggal tiga minggu, sebelum kita memasuki masa Adven. Dalam Bacaan pertama, ditulis tentang kebijaksanaan: “ia sendiri berkeliling mencari orang yang patut baginya,” dan seterusnya. Juga: “sebab permulaan kebijaksanaan ialah keinginan sejati akan didikan, dan mencari didikan adalah kasih kepadanya.” Dengan begitu, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi bijak. Terpulang kepada setiap umat: mencarinya, merenungkannya, bisa pula menolak atau mengabaikan kebijaksaan.

 

Sementara, dalam Bacaan kedua, Rasul Paulus berusaha meneguhkan iman jemaat di Tesalonika. Mereka yang telah menerima Kristus dan bahwa Kristus yang telah bangkit akan datang kembali (parosia). Mereka mempertanyakan, yang akan terjadi terhadap saudara-saudara yang lebih dahulu meninggal?ementara parodia belum terjadi? Rasul Paulus menyampaikan bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus akan dibawa ke rumah Bapa, setelah itu mereka yang masih hidup ketika Dia datang. Semua akan dikumpulkan Allah bersama-sama Dia.

+++

Bagaimana tentang pesan Injil menurut Matius? Dikisahkan sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Allah: cerita tentang sepuluh gadis yang menantikan kedatangan sang Pengantin. Cerita yang sangat dikenal dan hanya terdapat di Injil menurut Matius. Dalam tradisi Yahudi, pengantin pria akan menjemput kekasihnya. Hanya, waktunya belum bisa dipastikan. Karena itu, mereka harus menantikan dengan sabar. Dan dalam penantian itu, semua jatuh tertidur. Hingga ada suara yang menyerukan bahwa sang Pengantin sudah datang. Semuanya bangun, dan bersiap. Di titik inilah terlihat adanya perbedaan yang nyata, antara lima gadis yang disebut cerdik(bijak) dan lima lainnya dikatakan bodoh. Karena apa bodoh? Mereka tidak bersiap dengan sungguh, dengan membawa buli-buli berisi minyak. Sehingga pelita mereka akan mati dikarenakan tidak membawa persediaan minyak. Terpaksa mereka pergi membeli, namun saat kembali, pintu sudah ditutup!

+++

Apa yang bisa menjadi ‘inspirasi’ dan sekaligus motivasi bagi kita? Pertama, Allah yang Maha Kasih, Sang Kebijaksanaan, senantiasa menanti umat-Nya. Ia mendahului memperkenalkan diri kepada yang ingin kepadanya, begitu ditulis dalam kitab. Pertanyaannya, apakah kita terbuka kepada-Nya? Kedua, ketika kita bertanya bagaimana tentang kehidupan abadi, maka inti pengajaran Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika juga bisa berlaku bagi kita, atau, siapa saja yang percaya kepada-Nya. Yesus pasti akan datang lagi(parosia). Apakah kita sungguh mempersiapkan diri? Ketiga, Bacaan suci untuk Minggu Biasa ini, intinya adalah mempersiapkan diri setiap saat. Dengan kata lain: berjaga-jaga, sehingga ketika tiba waktunya, kita didapati dalam keadaan siap.

Selamat bersukacita merayakan Ekaristi di Hari Minggu Biasa ke-32 bersama semua saudara. Dan, marilah turut serta melambungkan pujian dan permohonan,

“Jiwaku haus akan Dikau, ya Tuhan Allahku.” (Mzm.63:2b)                                                                      

Shalom!