"Hari Raya Pentakosta"

"Hari Raya Pentakosta"

HARI RAYA PENTAKOSTA

“Pentakosta”

Kis. 2:1-11; Gal. 5:16-25; Yoh.15:26-27; 16:12-15

Pentakosta, yang artinya “hari ke-50”, terjadi tujuh pekan setelah kebangkitan Yesus, dan dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid. Sepuluh hari sesudah Yesus naik ke surga. Mengenai turunnya Roh Kudus, tertulis pada kitab Kisah Para Rasul, yang pada minggu, ini menjadi Bacaaan Pertama.

Pada awalnya, yaitu di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta dirayakan tujuh pekan setelah panen gandum. Hal itu bisa kita baca, misalnya, di kitab Imamat bab 23 atau dalam kitab Ulangan (16:9-12). Dalam perkembangan tradisi Yahudi, juga dirayakan sebagai hari turunnya Taurat kepada Musa. Dan, perayaan ini, berasal dari salah satu pesta ziarah orang Yahudi (bdk. Ul. 16:16; ditulis sebagai Hari Raya Tujuh Minggu), yaitu sebagai perayaan syukur dan terima kasih kepada Allah atas berkat yang diterima dalam bentuk panen. Karena termasuk salah satu pesta ziarah, maka tidaklah mengherankan jika banyak umat Yahudi diaspora berkunjung ke Yerusalem. Inilah salah satu latar belakang dari begitu banyaknya orang Yahudi berkumpul di Yerusalem, yang digambarkan dalam, “Waktu itu di Yerusalem, diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.” (Kis. 2:5).

Apa yang terjadi pada waktu turunnya Roh Kudus? Yang tertulis adalah: 1. suara atau bunyi dari langit seperti tiupan angin yang keras, 2. penglihatan dalam bentuk lidah-lidah api yang bertebaran dan pada mereka masing- masing, dan, 3. para murid berbicara dalam bahasa-bahasa lain karena mereka semua dipenuhi Roh Kudus.

Ketiga peristiwa itu dapat dikatakan sebagai pemenuhan nubuat oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri. Kata Yohanes: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun, aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan api.” (Luk. 3:16). Yesus menubuatkan, “Lihatlah, Aku mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku.” (Luk. 24:49); juga, “Sebab Yohanes membaptis kamu dengan air, tetapi tak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” (Kis. 1:5), serta, “Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun atas kamu.” (Kis. 1:8).

Injil Suci menurut Santo Yohanes untuk hari ini, dapat dibagi dua: Bagian dari pesan-pesan Yesus saat perjamuan makan. Kali ini, Yesus berpesan, “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku (ay. 27). Untuk menguatkan para murid, Yesus berjanji akan mengirim Penghibur. Penghibur yang datang dari Bapa, yaitu, Roh Kebenaran. Bagian kedua, bagian dari pengajaran Kristus, “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.” (Yoh. 16:2). Yesus mengingatkan para murid bahwa mewartakan sabda-Nya akan menghadapi banyak kesukaran, banyak cobaan. Jika terhadap Guru mereka begitu banyak tentangan diberikan oleh mereka yang belum mau menerima, tentulah hal yang sama akan dialami para murid. Namun, mereka akan dikuatkan oleh Roh Kebenaran.

Bagaimana kita mencoba memahami makna Hari Raya ini? Hari Raya turunnya Roh Penghibur? Mungkin beberapa hal berikut bisa dipertimbangkan. Pertama, sebagai murid Kristus, kita diajarkan bagaimana menyampaikan pewartaan. Yaitu, dengan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh umat, oleh orang lain (bdk. Kis. 2:6-11). Dengan begitu, yang diutamakan adalah orang lain: menggunakan hahasa yang mereka pahami, dan bukan seperti yang dimaui Pewarta. Kedua, dalam melayani, dalam bentuk yang sederhana sekali pun, kita disadarkan bahwa pewartaan jauh dari proses yang mulus. Bahkan banyak tentangan! Untuk itu, kita telah dan akan selalu ditemani oleh Roh Kudus, yang semoga, menguatkan kita selalu. Ketiga, walau bukan yang terakhir, kita bekerja dengan Roh (Kudus). Dan, kita dapat melihat buah dari pelayanan, pewartaan, dengan bantuan ajaran yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada umat di Galatia: Tetapi, buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabatan, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23). Begitu banyak buahnya, tentu dibutuhkan banyak usaha, banyak kerja.

Semoga, Tuhan Yesus Kristus senantiasa menemani setiap pewartaan, pelayanan, bapak, ibu dan kaum muda.