"Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus"

"Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus"

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Menyiapkan diri

(Kel. 24:3-8; Ibr. 9:11-15; Mrk. 14:12-16.22-26)

Ada sebuah cerita. Singkat. Sebuah kisah nyata: terjadi dalam sebuah Lingkungan di Wilayah 7, paroki kita  tercinta. Paroki Jatiwaringin, gereja Santo Leo Agung.

Begini kisahnya. Waktu itu, sejumlah umat sudah siap di depan laptop atau telepon seluler masing-masing. Di layar, terlihat sudah 18 keluarga yang hadir.  Sekitar sepuluh menit lagi, Doa Rosario yang terakhir di bulan Mei 2021, akan dimulai. Sambil menantikan waktu dan beberapa umat lainnya, sang Ketua bertanya. Persisnya, meminta kepada dua umat lansia. Kepada seorang kakek dan seorang nenek. Kira-kira pertanyaan: “Bagaimana perasaan bapak dan oma, setelah menghadiri perayaan Ekaristi, untuk pertama kalinya?” Tentu, pertama kali setelah pandemi. Sang kakek, intinya, berkata, bahwa misa terasa lama, namun, waktu terima hosti, tanpa terasa air mata menetes. Ada lagi yang disampaikan, tetapi, yang di atas itu yang teringat dengan cermat. Mengapa ada kata-kata ‘terasa lama’? Wajar saja, kiranya. Setelah mengikuti misa dalam jaringan (daring), dimana umat bisa hadir beberapa menit sebelum dimulai, maka di gereja, tentulah kakek yang disiplin akan hadir lima belas menit atau lebih, sebelum misa.  Bagaimana dengan kesan sang nenek? Beliau berkata, “Terima kasih Tuhan Yesus.” Ketika ada yang mencoba meminta lebih jauh, sang nenek berkata, “Hanya bisa dirasakan.”

 

Tiga minggu terakhir, kita merayakan tiga peristiwa Hari Raya: Pentakosta, Tritunggal Mahakudus dan, minggu ini, Tubuh dan Darah Kristus, sebelum kembali memasuki Minggu Biasa. Injil Suci diambil dari Santo Markus, yang berkisah tentang persiapan Perjamuan dan Perjamuan Paskah itu sendiri. Dalam bagian persiapan, kita dikisahkan bagaimana Yesus menugaskan dua murid, dengan petunjuk yang unik, untuk melihat di mana ruangan bagi perjamuan. Terkesan disini, Yesus sedang bernubuat. Tentang Perjamuan Paskah, yang berakar jauh di Perjanjian Lama, Yesus mengucapkan dua hal, yang hingga sekarang, dan selamanya, akan tetap dilakukan dan dikenang. Yaitu, “Ambillah, inilah Tubuh-Ku”, dan, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.” Perikop ditutup dengan nyanyian pujian dan mereka pergi ke Bukit Zaitun.

+++

Dalam Bacaan pertama, diceritakan mengenai Allah memanggil Musa dan Harun, Nadab dan Abihu dan tujuh puluh tua-tua Israel untuk menghadap. Allah akan membuat perjanjian dengan umat pilihan-Nya. Janji yang intinya bahwa Israel akan menjadi umat-Nya dan, Allah adalah Tuhan mereka. Dan, perjanjian itu dimeteraikan dengan darah korban persembahan. Sebagian darah itu dipercikkan Musa ke mezbah, dan sebagian ke bangsa itu serta berkata, “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.”, setelah Musa membaca isi perjanjian dan bangsa Israel mengamininya.

+++

Apa yang dapat kita maknai, sehingga dapat dilakukan untuk masa kini? Dari Injil Suci, kita diingatkan untuk mengenang Yesus yang memberikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai kurban penebusan dosa. Dan, penebusan itulah yang menyelamatkan kita, dan semua orang yang percaya kepada-Nya. Dan, Yesus melakukannya sekali untuk selamanya, sehingga segala macam kurban terdahulu tidak lagi diperlukan. Untuk itu, alangkah layak dan pantas jika kita, selaku umat-Nya, melakukan persiapan yang baik, setiap kali akan mengikuti perayaan Ekaristi. Ekaristi sebagai puncak iman. Begitu pun, Gereja kita fleksibel dalam arti, bisa menyesuaikan ‘aturan’ seturut jaman. Misalnya, sekarang umat diminta untuk tidak makan atau minum satu jam sebelum menerima Tubuh dan Darah Kristus. Dahulu, aturannya adalah sehari menjelang perayaan Ekaristi. Hal lain yang bisa kita terapkan adalah bahwa dalam setiap Perjamuan yang diadakan Gereja, sesungguhnya juga melibatkan kita sebagai murid-murid-Nya, seperti yang dikisahkan di Injil Suci dan Bacaan pertama. Misalnya, saat Paroki (Gereja) membutuhkan umat yang bersedia melayani sebagai Pengurus Lingkungan, umat dapat ikut serta secara nyata dengan mengusulkan nama-nama yang layak untuk dipercaya. Dengan Tindakan sederhana itu, kita sudah berupaya menjadi umat yang baik.

Semoga, semakin lebih banyak umat yang lebih mengasihi, lebih peduli dan semoga, semakin menjadi berkat, bagi sesama.

Shalom.