Hukum Kasih Karunia yang Baru

Hukum Kasih Karunia yang Baru

Yesus berkata kepada murid-muridnya: “Jangan mengira bahwa Aku datang untuk menghapuskan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk menghapuskan, melainkan untuk menggenapinya. Amin, Aku berkata kepadamu, sampai langit dan bumi lenyap, tidak ada huruf terkecil atau bagian terkecil dari suatu huruf pun yang akan hilang dari hukum, sampai semuanya terjadi.” Matius 5:17–18

Hukum dan kitab para nabi, sebagaimana terdapat dalam Perjanjian Lama, terdiri dari tiga jenis. Pertama, ada hukum moral, seperti Sepuluh Perintah Allah, yang pada dasarnya didasarkan pada hukum kodrat Tuhan. Yang kami maksud dengan “hukum alam” adalah bahwa akal budi manusia kita dapat memahami kebenarannya, misalnya “Jangan membunuh, mencuri, dsb.” Kedua, ada banyak aturan liturgi yang ditetapkan dan dipraktikkan sebagai persiapan dan gambaran pemenuhan liturgi akhir. Pemenuhannya kini ditemukan dalam kehidupan sakramental Gereja. Ketiga, adanya berbagai sila hukum yang memberikan arahan khusus dalam kehidupan sehari-hari. Hukum-hukum ini mencakup petunjuk mengenai makanan, hubungan dengan orang lain, cara memperlakukan orang asing, pembersihan, penyucian peralatan, persepuluhan, dan banyak lagi.

Dalam Injil kita hari ini, Yesus pada dasarnya mengatakan dua hal. Pertama, mengenai ajaran hukum dan liturgi, Dia berkata bahwa Dia datang untuk “memenuhi” ajaran tersebut. Dengan demikian, umat Kristiani tidak lagi terikat oleh hukum-hukum hukum dan liturgi Perjanjian Lama, karena kita sekarang dipanggil untuk memenuhi semuanya secara lebih tinggi. Namun mengenai hukum moral, terutama yang terdapat dalam Sepuluh Perintah Allah, tidak ada satupun sila yang diajarkan yang dihapuskan. Sebaliknya, Perintah-perintah ini diperdalam, dan panggilan menuju kesempurnaan moral kini menjadi lebih jelas. Karena alasan inilah Yesus melanjutkan dengan mengatakan, “Jadi siapa pun yang melanggar salah satu dari perintah-perintah ini dan mengajar orang lain untuk melakukannya, akan dianggap paling hina dalam Kerajaan Surga. Tetapi siapa pun yang menaati dan mengajarkan perintah-perintah ini akan disebut yang terbesar di Kerajaan surga.”

Penting untuk dipahami bahwa mereka yang hidup sebelum zaman Kristus tidak mempunyai standar yang sama seperti kita saat ini. Itu karena mereka tidak menikmati anugerah kasih karunia yang diperoleh melalui Salib dan dianugerahkan oleh Roh Kudus. Saat ini, kita memiliki lebih banyak hal dan, oleh karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam kekudusan yang jauh lebih besar. Misalnya, kita tidak lagi merayakan Paskah hanya sekedar mengenang apa yang telah dilakukan Allah dengan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Hari ini, kita merayakan Paskah Baru melalui partisipasi kita dalam Ekaristi Kudus, dan “peringatan” kita lebih dari sekedar mengingat kenangan masa lalu. Ingatan kita adalah ingatan yang memampukan kita untuk benar-benar berpartisipasi dalam pengorbanan Kristus yang menyelamatkan. Kita ambil bagian dalam peristiwa yang sebenarnya dan mengambil bagian dalam rahmat yang dimenangkan di Kayu Salib setiap kali kita merayakan Misa Kudus. Dan hukum-hukum moral dalam Perjanjian Lama menjadi landasan moralitas. Batas atas sekarang jauh lebih tinggi. Kita harus mengasihi musuh kita dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Kita harus menyerahkan hidup kita untuk orang lain dan memikul salib kita setiap hari untuk mengikuti Yesus. Kita dipanggil pada kesempurnaan cinta kasih yang berkorban, dan hal itu hanya mungkin terjadi jika kita ikut ambil bagian dalam kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus, Tuhan kita.

Renungkan, hari ini, panggilan yang sangat tinggi yang telah diberikan kepada Anda oleh Tuhan kita. Tidaklah cukup hanya melakukan hal-hal minimal dalam ibadah dan kehidupan moral kita. Melakukan hal ini mungkin membuat Anda menjadi “yang terkecil dalam Kerajaan Surga,” namun Tuhan ingin Anda ikut ambil bagian dalam kebesaran-Nya. Dia memanggil Anda untuk menjadi salah satu “yang terbesar di Kerajaan surga.” Apakah Anda memahami panggilan tinggi Anda? Apakah Anda mempunyai kesempurnaan kekudusan sebagai tujuan Anda? Berkomitmenlah pada diri Anda untuk berpartisipasi penuh dalam Hukum Baru Kristus dan Anda akan selamanya bersyukur atas partisipasi Anda.

Tuhanku yang maha mulia, Engkau datang membawa hidup kami menuju kepenuhan rahmat dan kesucian. Anda memanggil kami ke ketinggian Surga. Tolonglah aku untuk menyadari panggilanku yang mulia ini, ya Tuhan, dan untuk bekerja dengan tekun untuk menerima segala yang Engkau perintahkan melalui Hukum Baru tentang kasih karunia dan belas kasihan-Mu. Yesus, aku percaya pada-Mu.(KOMSOS/SOURCE)