“Memeriksa Diri Untuk Memahami Ajaran Yesus”

“Memeriksa Diri Untuk Memahami Ajaran Yesus”

“Memeriksa diri untuk memahami ajaran Yesus”

Hari Minggu Biasa X - 9 Juni 2024

Kej. 3:9-15 ; 2Kor 4:13-5:1 ; Mrk. 3:20-35

 

Kisah dari perikop untuk Minggu Biasa ini terkesan kontradiktif,  bertolak belakang. Pandangan umat yang mengangumi pelayanan Yesus dibandingkan dengan pandangan kerabat dekat dan para ulama yang datang khusus dari Yerusalem. Di Galilea yang di Utara Tanah suci, Yesus sudah tenar dan diikuti orang banyak, karena Ia mampu mengeluarkan roh jahat, tidak canggung mendekati para pendosa, menyembuhkan berbagai penyakit, mengajar dengan wibawa dan lainnya. Ketenaran ini ‘mengundang’ ahli Taurat dari Yerusalem yang tidak percaya ada yang baik dari Galilea(bdk. Yoh. 1:46), dan bahkan menuduh Yesus melakukan itu semua dengan kuasa pemimpin setan. Sedangkan para kerabat mengatakan bahwa Yesus sudah tidak waras lagi, sehingga makan pun tidak sempat. Mereka ingin mengambil Dia!

+++

Markus hendak menampilkan dua sikap yang saling berlawanan terhadap Yesus. Di satu sisi ada sikap terbuka, penuh harapan, percaya dari orang banyak. Ini dikontraskan dengan sikap waswas, curiga, dan ragu-ragu kaum ulama dan dari sanak saudara Yesus sendiri. Orang banyak menginsafi kehadiran Tuhan dalam diri Yesus. Yang kedua malah menduga ‘yang tidak-tidak’.  Yesus menanggapi para ulama dengan dua perumpamaan. Satu, “...kerajaan yang terpecah dari dalam tentu tidak bisa terus ada. Bila Iblis melawan diri sendiri, tentu kerajaannya akan pecah sendiri.” Yang kedua, “... orang kuat tak dapat dirampas hartanya tanpa diikat terlebih dahulu, maksudnya, mengalahkannya sampai tak berkutik.” Dengan ini Yesus mengatakan bahwa Dia telah mengalahkan orang kuat tadi. Dan, Yesus juga mengingatkan bahwa semua dosa dan hujat dapat diampuni, kecuali yang menghujat Roh Kudus. Sementara, kepada sanak saudara-Nya, Yesus berkata, “Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”   

+++

Di sebuah taman, apalagi ketika hari sejuk, saat yang tepat untuk jalan-jalan. Dalam Bacaan pertama, dikisahkan Allah melakukan hal itu, ketika manusia telah jatuh kedalam dosa, karena tidak mampu menolak godaan. Ketika Allah menyapa, yang tujuannya agar sejoli manusia mau mengakui kesalahan, mereka malah ‘menyalahkan’ pihak lain! Akibatnya, semua mendapat hukuman yang sepadan. Namun, ketika makhluk hidup jatuh dalam dosa, Allah tetap berbelas kasih. Allah mengasihi, melindungi (dilambangkan dengan membuatkan jubah dari kulit, yang berarti mengurbankan hewan. Dan memakaikannya kepada mereka!)

+++

Apa yang bisa menjadi ‘inspirasi’ dan sekaligus motivasi bagi kita dalam tahun Solidaritas dan Susidiaritas ini? Pertama, pesan Injil Markus adalah mengajak orang untuk memeriksa diri di mana berada. Bukan dengan mengecam alim ulama dan sanak saudara Yesus yang salah memahami karya pelayanan-Nya. Begitu pula kita pada zaman ini, diharapkan dapat memahami pesan tersebut(memeriksa diri). Kedua, Allah mengasihi manusia, bahkan ketika jatuh dalam dosa. Yesus memberikan harapan bahwa setiap dosa dan hujat dapat diampuni, kecuali menghujat Roh Kudus. Ketiga, Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa “setiap orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus, perlu memiliki pengetahuan akan Kristus dan menjalankan kehidupan di dunia ini bersama Dia. Kepercayaan diungkapkan dalam bentuk perbuatan, misalnya berusaha mengenal Kristus yang tertulis di dalam Kkitab Suci Alkitab.

Sebagai penutup renungan, Selamat merayakan Hari Minggu Biasa ke-10, bersama semua saudara. Dan, marilah turut serta bersama untuk melambungkan pujian dan permohonan, “Pada Tuhan ada kasih setia dan penebusan berlimpah.”  (Mzm. 130:7).

Shalom!