Menangis kepada Yesus

Menangis kepada Yesus

Ketika Yesus meninggalkan Yerikho bersama murid-muridnya dan sejumlah besar orang, Bartimeus, seorang buta, putra Timaeus, duduk di pinggir jalan mengemis. Ketika mendengar bahwa itu adalah Yesus dari Nazaret, dia mulai berseru dan berkata, “Yesus, anak Daud, kasihanilah aku.” Markus 10:46–47

Bagaimana cara Anda berdoa? Pernahkah Anda “berseru” kepada Yesus dengan keyakinan dan intensitas yang dalam? Orang buta ini, Bartimeus, memberi kita contoh yang luar biasa tentang bagaimana kita harus berdoa kepada Tuhan kita. Pertama-tama, orang buta itu berada dalam keadaan membutuhkan. Kebutaannya melambangkan setiap kelemahan dan kebutuhan yang Anda miliki dalam hidup. Jadi, apa hal yang paling Anda perjuangkan dalam hidup? Apa dosa kebiasaan terbesar Anda? Atau apa yang paling membuatmu sedih?

Melihat kelemahan kita adalah langkah pertama. Begitu kita menyadari kebutuhan terbesar kita, kita juga harus “berseru” kepada Tuhan kita seperti yang dilakukan Bartimeus. Setelah mendengar bahwa itu adalah Yesus, entah bagaimana Bartimeus merasakan dalam jiwanya bahwa Yesus ingin menyembuhkannya. Bagaimana dia merasakan hal ini? Dia mendengarkan suara Tuhan di dalam. Ya, dia mendengar keributan banyak orang berbicara tentang Yesus ketika Dia lewat. Namun hal ini saja tidak dapat memaksa dia untuk berseru dan mengetahui bahwa Yesus adalah sumber belas kasihan yang dia butuhkan. Yang mendorongnya adalah suara Tuhan yang jelas, dorongan dari Roh Kudus, di dalam jiwanya, yang menyatakan kepadanya bahwa dia membutuhkan Yesus dan bahwa Yesus ingin menyembuhkannya.

Mula-mula orang-orang di sekelilingnya menegur Bartimeus dan menyuruhnya diam. Dan jika Bartimeus lemah dalam iman, dia mungkin mendengarkan orang banyak dan, dalam keputusasaan, tetap diam. Namun cukup jelas bahwa dia tidak hanya mengabaikan teguran orang lain, dia “terus berteriak lebih keras lagi.”

Di sini Bartimeus memberi kita kesaksian ganda tentang bagaimana kita harus berpaling kepada Tuhan kita. Pertama, kita harus merasakan kehadiran-Nya yang lembut namun jelas di dalam jiwa kita. Kita harus mengenali suara-Nya dan dorongan kasih karunia-Nya. Dia ingin menyembuhkan kita, dan kehadiran-Nya dalam hidup kita harus dirasakan di dalam diri kita. Kedua, kita harus benar-benar terpaku pada suara di dalam diri kita. Kumpulan orang banyak yang menegur Bartimeus merupakan simbol dari banyaknya “suara” dan godaan yang kita alami dalam hidup yang mencoba menghalangi kita untuk dengan setia dan sungguh-sungguh berseru kepada Tuhan yang berbicara kepada kita. Tidak ada yang boleh menghalangi kita dari tekad sepenuh hati untuk berseru kepada Yesus dengan kebutuhan kita.

Renungkan, hari ini, tentang Bartimeus yang merupakan gambaran diri Anda sendiri. Lihatlah diri Anda sangat membutuhkan Tuhan kita dan dengarkan suara-Nya yang jernih. Apakah Anda mendengar Dia? Apakah Anda merasakan Dia lewat? Saat Anda melakukannya, berserulah kepada-Nya dengan semangat, intensitas, dan keyakinan. Dan jika Anda menemukan bahwa ada godaan yang mencoba membungkam doa dan iman Anda, tingkatkan intensitas Anda dan berseru “lebih lagi” kepada Tuhan kita. Dia akan mendengarmu, memanggilmu kepada-Nya dan memberimu rahmat yang ingin Dia berikan.

Yesusku yang penuh belas kasihan, Engkau terus-menerus lewat, menarikku kepada Diri-Mu melalui kehadiran ilahi-Mu. Berilah aku rahmat yang aku perlukan agar dapat melihat kebutuhanku dan berseru kepada-Mu dengan segenap hatiku. Semoga aku tidak pernah tergoyahkan dari doa yang khusyuk ini, ya Tuhan, dan ketika godaan mulai datang, semoga aku semakin berseru. Yesus, aku percaya pada-Mu.(komsos-source)