“Menemukan Roti Hidup”

“Menemukan Roti Hidup”

Hari Minggu Biasa XVIII

“Menemukan Roti Hidup”

(Kel. 16:2-4,12-15; Ef. 4:17.20-24; Yoh. 6:25-35)

Ketika kita mengalami suatu keadaan yang kurang baik, dan bahkan mencemaskan, pengajaran Yesus yang manakah selayaknya kita dalami? Bisa jadi, perikop untuk Minggu ini, Minggu Biasa ke-18, jadi alternatif. Pengajaran-Nya yang manakah itu?: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu…,.”(ay.27). Setelah terjadi dialog antara Yesus dengan orang banyak, yang bertanya apa yang harus diperbuat, Yesus menjawab, “hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (ay.29b). Masih saja orang banyak ngeyel dan meminta tanda dari Yesus. Jika itu karena ketidaktahuan, bisalah kita menganggap itu tanda positif. Yaitu, keinginan untuk lebih tahu dan mengenal siapa Yesus. Namun, mereka meminta tanda, karena, sebagai keturunan Musa, mereka menyampaikan apa yang diceritakan oleh nenek moyang mereka: bahwa Musa memberikan mereka roti dari sorga, saat di padang gurun. Yesus melakukan koreksi atas pendapat mereka itu, dan berkata: “Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.” Setelah itu, orang banyak meminta kepada Yesus roti itu. Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”(ay.35). Pengajaran- Nya jelas: Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup!(bdk. Yoh. 14:6). Tidak ada yang lain.

Dalam Bacaan pertama, dikisahkan sungut-sungut jemaah Israel di padang gurun Sin. Menurut para ahli tafsir, dengan ‘berstatus’ sebagai “jemaah”, menjadi tanda bahwa orang-orang itu sekarang mempunyai status baru. Yakni, sebagai umat Allah. Selayaknya mereka bergembira dan, bersyukur, bahkan. Karena, lepas dari status budak. Apa yang terjadi? Sepanjang jalan menuju tanah terjanji, mereka lebih banyak mengeluh, bersungut-sungut. Dalam kisah ini, mereka bersungut-sungut dan mengecam Musa, dan Harun juga, tentunya! Mereka protes, karena disamping lelah, tidak tersedia “kuali berisi daging” seperti di Mesir, walau sebagai budak! Mana ‘madu’ dan ‘susu’ yang dijanjikan? Sebelumnya, di Mara, mereka mengeluhkan tidak tersedianya air, baik bagi mereka maupun ternak. Allah, senantiasa berbelas kasih: menurunkan roti dan burung puyuh sebagai makanan mereka.

Inspirasi apa yang dapat kita maknai dari Injil Suci dan Bacaan lainnya untuk Minggu ini? Dari Injil Suci menurut Santo Yohanes, orang banyak diajar Yesus untuk mengutamakan sesuatu(iman) yang baik. Yaitu percaya bahwa Yesus adalah “Roti Hidup”, yang akan membebaskan kita, umat, dari penderitaan kekal. Dan bukan seperti manna yang diterima bangsa yang menjadi ‘jemaah’; roti yang bersifat mengenyangkan perut untuk satu hari saja. Tentunya, pengajaran itu juga untuk kita semua, selaku para murid Tuhan Yesus masa kini. Bagaimana kita memaknainya pada masa pandemi ini?

Untuk mengakhiri renungan kali ini, ada baiknya kita mencoba belajar dari para Kudus. Setiap tanggal 1 Agustus merupakan perayaan wajib St. Alfonsus Maria de Liguori. Namun, karena kali ini jatuh pada hari Minggu, maka tidak menjadi peringatan wajib. Tentu, bagi tarekat CSsR ada acara khusus. St. Alfonusus adalah seorang Pujangga atau Doktor Gereja, yang juga seorang Uskup. Beliau adalah pendiri tarekat Congregatio Sanctissimi Redemptoris (CSsR), atau disebut Redemptoris, yang artinya Sang Penebus, pada 1732 di kota Napoli. Ketika dibaptis sang Santo diberi 9 nama para kudus. Nama lengkap beliau: St. Alfonsus Maria Antonius Yohanes Fransiskus Kosmas Damian Mikael Gaspar de Liguori. Namun, yang lebih dikenal adalah St. Alfonsus Maria de Liguori. Banyak informasi yang bisa menjadi pelajaran bagi kita dari sang Santo. Pada usia 7 tahun, oleh ibunya yang saleh, Donna Anna, Alfonsus kecil diserahkan kepada seorang Pembimbing rohani, Pater Tomas Pagano, yang menjadi pembimbing rohani St. Alfonsus selama hampir 30 tahun. Selain sebagai penulis yang subur (lebih dari 60 buku), St. Alfonsus juga menulis lagu puji-pujian, bermain organ dan melukis. Sebagai manusia biasa, masuk ke Universitas Napoli ketika berusia 13 tahun, dan pada usia 17 tahun telah menjadi seorang ahli bidang hukum. Sebagai seorang pengacara yang handal, ada sebuah kasus yang diyakini akan dimenangkan, ternyata berakhir dengan kekalahan pahit! Ketika itu beliau membela sebuah keluarga terpandang.

Peristiwa ini menjadi titik balik perjalanan hidup beliau, khususnya perjalanan rohani. Melalui proses yang panjang, termasuk juga mengatasi rasa sakit kepala yang sering timbul, beliau tetap bertekun dalam pelajaran teologi. Akhirnya, beliau diangkat sebagai Uskup di Santa Agata dei Goti. Dan puncaknya, Gereja menggelari beliau sebagai Doktor Gereja oleh Paus Pius IX pada 1871. St. Alfonsus juga dikenal sebagai Pewarta yang rendah hati, mempunyai devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Dari sekian banyak warisan beliau, yang sekarang kita gunakan adalah ‘Doa Komuni Batin’. Beliau wafat pada 1 Agustus 1787, ketika berusia 90 tahun. Dan tanggal ini menjadi peringatan wajib bagi sang Santo.

Mudah-mudahan, pesan-pesan ini berguna bagi kita semua. Selamat hari Minggu – selamat bertemu Tuhan di dalam Ekaristi - Tuhan Memberkati.