“Menjadi Utusan”

“Menjadi Utusan”

HARI MINGGU BIASA XV

“Menjadi Utusan”

Am. 7 : 12-15; Ef. 1 : 3-14; Mrk. 6 : 7-13

Bacaan Injil Minggu ini bercerita tentang Yesus yang mulai mengutus keduabelas murid-Nya. Di dalam mengutus para murid-Nya, Yesus tidak melepas mereka begitu saja. Walau tidak boleh membawa apa-apa seperti makanan dan uang, kecuali tongkat, mereka dibekali dengan sesuatu yang sangat diperlukan dalam sebuah tugas perutusan yaitu memberi mereka kuasa atas Rohroh Jahat. Hasilnya, mereka tidak saja memberitakan bahwa orang harus bertobat, tetapi juga mereka telah mengusir banyak setan dan menyembuhkan mereka yang sakit.

Lalu apa makna kekinian dari kisah ini? Baptisan di dalam Gereja Katolik menandakan bahwa kita telah memasuki kehidupan yang baru. Baptisan telah menjadikan kita murid-murid Kristus dan itu berarti kita memasuki babak baru dalam kehidupan kita sebagai seorang utusan. Dengan memahami arti baptisan Katolik, maka makna dari “Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat , dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju” bagi kita hari ini menjadi sangat jelas. Roh Kudus yang kita terima saat pembaptisan adalah kuasa yang kita terima dari Tuhan untuk melawan roh-roh jahat atau kecenderungan- kecenderungan untuk berbuat dosa.

Inilah hal terpenting yang harus kita bawa didalam setiap tugas perutusan kita, yaitu tongkat kuasa, yang akan menopang hidup kita agar tidak jatuh terpeleset ke dalam dosa karena pengaruh ataupun jebakan kuasa-kuasa jahat. Pertanyaan selanjutnya, kemana kita harus pergi sebagai seorang utusan? Pertama, pergilah kepada diri kita sendiri. Sudahkan cara hidup kita selaras dengan kehendak Tuhan? Apakah kita benar-benar mengandalkan kekuatan Tuhan? Apakah kebahagiaan kita sangat ditentukan oleh benda-benda duniawi? Apakah hidup kita selalu disibukkan dengan urusan-urusan dunia dan melalaikan kegiatan-kegiatan yang dapat membawa kita semakin dekat dengan Tuhan? Juga, apakah hidup kita masih dikuasai oleh kelemahan-kelemahan (kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan dan kemalasan)? Mari refleksikan hidup kita.

Kedua, banyak ladang perutusan di sekitar kita. Paroki kita saat ini sedang ada peremajaan pengurus, mulai dari Dewan Paroki Harian dan terus sampai peremajaan Ketua-ketua Lingkungan. Siapkan diri kita untuk menerima tongkat estafet pelayanan dan perutusan ini? Dengan demikian, kita tidak hanya memberitakan kabar baik kepada sesama kita tetapi kita telah menjadi kabar baik itu sendiri bagi sesama.

Selamat hari Minggu – selamat bertemu Tuhan di dalam Ekaristi - Tuhan memberkati.