“Mukjizat: Kasih Allah dan iman kita”

“Mukjizat: Kasih Allah dan iman kita”

HARI MINGGU BIASA XIV

“Mukjizat: Kasih Allah dan iman kita”

Yeh. 2:2-5; 2Kor. 12:7-10; Mrk. 6:1-6

Yesus telah melakukan banyak hal, sebelum peristiwa penolakan di kampung-Nya sendiri, di Nazaret, terjadi. Kisah ini diceritakan di ketiga Injil Suci Sinoptik. Tentu dengan tekanan dan maksud yang khusus, menurut penulis masing-masing Injil. Begitu banyak kegiatan Yesus dikisahkan, sejak awal Injil Suci menurut Santo Markus, sebelum kita mencapai perikope untuk Minggu Biasa ini. Dan, semuanya itu dikisahkan dengan satu tujuan: mengisahkan hidup dan pengajaran-Nya, seperti tertulis, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.”(Mrk. 1:1). Jadi, ingin diperkenalkan siapa dan apa tindakan Yesus, terutama semasa masih pengutusan-Nya, oleh Bapa. Karena itu, Bapak Uskup Kardinal, dalam salah satu pengajaran beliau, menyatakan bahwa Injil Markus sering disebut Injil untuk para katekumen, calon baptis(Api Karunia Tuhan). Karena, untuk menerima Yesus Kristus, sebagai Juru Selamat, dibutuhkan loncatan iman. Kembali ke perikope di atas. Dikisahkan bagaimana orang-orang sekampung, di Nazaret, yang semula kagum akan pengajaran-Nya, sampai ke titik dimana mereka menolak Yesus. Karena apa? Bisa kita simak motifnya, seperti tertulis pada ayat 3. Mereka terpaku dengan apa yang mereka ketahui. Mereka belum menerima bahwa Yesus seperti yang dikatakan oleh kepala pasukan saat Yesus di salib, “Sungguh, orang ini Anak Allah!”(Mrk. 15:39). Pengakuan ini hanya mungkin terjadi ketika terjadi loncatan iman. Apa yang terjadi kemudian? Maka dikatakan bahwa Yesus tidak mengadakan satu mujizat pun. Hanya menyembuhkan beberapa orang sakit. Padahal, di kisah-kisah sebelumnya, diceritakan bagaimana Yesus menyembuhkan dan bahkan menghidupkan anak Yairus.

Nabi Yehezkiel dipanggil Yahweh ketika sedang dalam pembuangan di Babilonia, di tepi sungai Kebar. Sang Nabi, yang juga seorang imam, dibawa ke Babel oleh raja Nebukadnezar, setelah menaklukkan Yerusalem, yang waktu itu rajanya Yoyakim, pada 597 SM. Firman Allah kepada sang nabi, seperti tertulis, “Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.”(Yeh. 2:3). Dikatakan selanjutnya bahwa bangsa itu keras kepala dan tegar hati. Bisa kita bayangkan, walau tidak pas benar, bagaimana suasana yang berkecamuk di hati sang nabi: diutus kepada saudara sebangsanya, yang sudah mendapat predikat demikian. Sudah terbayang pula, situasi yang bagaimana yang akan dihadapi. Penolakan adalah bagian dari peristiwa yang dialami. Hanya karena panggilan kenabian tidak mungkin dibatalkan, dan juga Allah senantiasa menyertai, maka sang nabi meneruskan pewartaannya.

Inspirasi apa yang dapat kita maknai dari Injil Suci dan Bacaan lainnya untuk Minggu ini? Jika kita simak di KBBI, maka yang dimaksud dengan mujizat adalah, kejadian atau peristiwa ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Dengan begitu, mujizat merupakan Kasih Allah kepada manusia. Pertanyaannya, dalam kondisi yang bagaimana mujizat terjadi? Seperti dalam perikop di Injil, dimana tidak terjadi mujizat karena mereka, umat di Nazaret saat itu, menolak Yesus. Mujizat terjadi ketika Kasih Allah menemui iman yang baik pada manusia. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, jika kita imani, mujizat senantiasa terjadi, bukan? Bagaimana akal sehat menjelaskan?: ketika kita tidur, tidak tahu dan ingat apa yang terjadi, esok hari kita bangun kembali. Itu berlangsung dari hari ke hari, tahun demi tahun, sepanjang usia manusia diberikan Tuhan. Mensyukuri pemberian-Nya, adalah yang selayaknya dilakukan.

Satu hal lagi, yang bisa dijadikan inspirasi adalah: ketika kita terlibat menjadi pewarta, maka mental harus siap untuk menghadapi berbagai situasi. Termasuk penolakan, dijadikan bahan pembicaraan atau lainnya. Itulah yang diajarkan Yesus kepada para murid. Para murid menyaksikan sendiri bagaimana Yesus ditolak oleh kaum dan saudara-Nya sendiri. Namun, pewartaan tetap harus disampaikan. Semoga, kita selaku murid-Nya, membutuhkan motivasi seperti yang disampaikan Rasul besar Paulus kepada jemaat di Korintus, Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."