"Roti Surgawi – Bekal untuk Kehidupan Kekal"

"Roti Surgawi – Bekal untuk Kehidupan Kekal"

Hari Minggu Biasa XIX

Roti Surgawi – Bekal untuk Kehidupan Kekal

(1 Raj. 19 : 4-8; Ef. 4 : 30 – 5 : 2; Yoh. 6 : 41-51)

Salah satu ajaran terkenal dari St. Hieronimus adalah “Sangatlah berbahaya untuk mencoba pergi ke Surga tanpa Roti Surgawi”. Ajaran St. Hieronimus ini mungkin saja di latar belakangi oleh Sabda Yesus yang kita dengar dalam bacaan hari Minggu ini "Akulah roti kehidupan yang telah turun dari Surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Ku-berikan untuk hidup dunia” (ayat 51). Seperti Allah telah menurunkan manna di padang gurun kepada nenek moyang Bangsa Yahudi, kini Allah mengutus Yesus untuk membawa manusia kepada kehidupan kekal.

Dari uraian diatas, saya mencoba merefleksikannya dalam dua hal.

Pertama, terkait dengan Ekaristi. Ekaristi adalah sumber dan puncak iman kita sebagai orang Katolik. Karena di dalam Ekaristi, Yesus Sang Roti Hidup tidak saja hadir, tetapi juga tinggal di dalam diri kita sehingga kita mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi, yaitu kehidupan yang senantiasa memberikan kita kekuatan untuk tetap setia mengasihi Allah dan sesama. Di dalam dan melalui Ekaristi, Iman kita akan selalu hidup karena kita selalu terhubung dengan Sang Sumber Kehidupan.

Kedua, masih terkait dengan Ekaristi, utamanya buah-buah yang kita terima atas Komuni Kudus. Selain mempererat kesatuan kita dengan Kristus, Komuni Kudus juga akan membuat kita semakin berkembang dalam cinta kasih kepada sesama. Dengan demikian, dimanapun kehadiran kata, kita sungguh-sungguh mampu berperan seperti yang Yesus harapkan, yaitu sebagai garam dan terang dunia. Hidup yang Ekaristis adalah kehidupan dimana kita telah mampu untuk membuang segala bentuk kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah serta kita akan mampu untuk saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita (bdk. Ef. 4 : 31-32).

Nah .. sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang-orang Yahudi yang sedang mendengarkan Yesus saat itu justru bersungut-sungut dan tidak percaya akan pernyataan Yesus bahwa Ia telah turun dari Surga karena mereka mengenal Ibu Bapak-Nya? (bdk. Yoh. 6 : 41-42). Sebelum menjawab pertanyaan ini, marilah kita mencoba untuk melihat ke kedalaman diri kita dahulu. Apakah kehadiran kita di dalam Ekaristi hanya sebagai sebuah kewajiban belaka atau di dorong oleh kerinduan yang sungguh untuk bersatu dan bersekutu dengan Sang Roti Kehidupan? Mungkin kita tidak bersungut-sungut, tetapi sikap percaya harus juga tercermin dari keterlibatan penuh kita di dalam seluruh liturgi Ekaristi.

Selamat hari Minggu – selamat bertemu Tuhan di dalam Ekaristi – Tuhan memberkati.