“Saling Meneguhkan”

“Saling Meneguhkan”

Minggu Adven III

“Saling Meneguhkan”

(Yes. 35 : 1-6a.10; Yak. 5 : 7-10; Mat 11 : 2-11)

Apakah para Pembaca yang terkasih pernah mendengar atau melihat di televisi acara berbalas pantun? Kalau kita mencoba googling untuk mencari tahu apa maksud dari kegiatan berbalas pantun kita akan menemukan macammacam arti dan maksud. Penulis mencoba mengutip beberapa diantaranya. Kegiatan berbalas pantun atau seni berbalas pantun adalah tradisi kuno yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi, pertunjukkan, mengandung nilai budaya, religi, etika dan estetika. Atau versi lain, berbalas pantun adalah tradisi lisan budaya melayu, dimana 2 pihak atau lebih saling melemparkan pantun yang memiliki arti atau maksud atau tujuan dari pantun tersebut. Berbalas pantun juga tradisi yang dilakukan masyarakat Betawi pada saat sebelum acara perkawinan dimulai. Berbalas pantun bersifat sebagai hiburan.

Apa yang Yesus dan Yohanes lakukan seperti dikisahkan oleh Matius, seperti berbalas pantun. Saat Yohanes mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus, “Engkau-kah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”, Yesus tidak menjawab ya atau bukan, tetapi dengan mengutip tulisan Nabi Yesaya yang berbicara tentang kedatangan Mesias yang dinantikan; “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik”. Yesus ingin menyampaikan kepada murid-murid Yohanes bahwa Dia-lah sosok yang selama ini kerap diwartakan oleh Yohanes, Dia-lah sosok Mesias yang dinantikan (bdk. Yes. 35:5-6; 61:1). Yesus-pun melakukan hal yang sama terkait siapa sosok Yohanes. Yesus memberi peneguhan kepada orang banyak yang sedang mendengarkan-Nya bahwa Yohanes-lah yang dimaksudkan oleh Nabi Yesaya tentang sosok yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias yang adalah Yesus yang ada bersama mereka saat ini.

Umat Tuhan yang terkasih. Yesus dan Yohanes bukan sedang berbalas pantun, tetapi sedang saling meneguhkan. Ini bukan sebagai hiburan seperti kegiatan berbalas pantun, tetapi justru sedang meneguhkan orang-orang Yahudi pada saat itu dan juga kita semua bahwa rencana keselamatan telah lama telah dirancang oleh Allah bagi manusia. Allah yang adalah Kasih tidak pernah berubah sejak kekal sampai kekal. Kita yang hidup di jaman sekarang ini adalah juga bagian dari rencana keselamatan itu, bagian yang akan diselamatkan juga.

Saat ini, kita memasuki Pekan Adven Ketiga, yang dalam Tahun Liturgi disebut Minggu Gaudete, yang artinya sukacita, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan. Kita bersukacita karena penantian akan kedatangan Juruselamat hampir tiba. Apakah hati kita sudah siap menyambut kedatangan-Nya ?

Selamat hari Minggu – selamat bertemu Tuhan Yesus dalam Ekaristi – Tuhan memberkati.