“Siap menyambut Sang Imanuel”

“Siap menyambut Sang Imanuel”

Minggu Adven IV

“Siap menyambut Sang Imanuel”

(Yes. 7:10-14; Rm.1:1-7; Mat. 1:18-24)              

Mzm.24:1-2,3-4ab,5-6

Inilah  hari Minggu terakhir pada Masa Adven tahun A. Inilah kisah tentang “Karya keselamatan Allah”, yang sering diceritakan. Cerita, yang terkesan sering di luar nalar manusia. Artinya, setelah diceritakan atau dibaca, umat sering dibuat bertanya-tanya. Misalnya, bagaimana memahami bahwa Yesus “dikandung dari Roh Kudus”, tapi dikatakan juga sebagai “Ia adalah keturunan Daud”? Ya, yang Ilahi dan juga manusiawi sekaligus? Tanggapan singkat yang dapat diberikan adalah, bahwa “peristiwa itu merupakan misteri ilahi”. Dan sebagai ‘misteri’, yang artinya rahasia abadi, maka dengan iman lah hal itu bisa dimaknai. Ya, memang Allah adalah “Mysterium tremendum et Fascinosum”: “Allah adalah Misteri yang menggentarkan sekaligus mempesona”, seturut para ahli Teologi. Semoga, mengenai hal ini bisa ‘dikisahkan’ suatu ketika.

Kelahiran Yesus Kristus versi Matius adalah topik untuk Minggu ini. Pemeran utamanya adalah seorang pria yang tulus hati, bernama Yusuf. Karena diberitahu oleh malaikat Tuhan, Yusuf membatalkan niatnya untuk menceraikan Maria secara diam-diam, yang ternyata telah mengandung sebelum mereka berdua resmi sebagai suami-isteri. Dalam adat Yahudi, memang ada dua tahap sebelum sepasang manusia membentuk keluarga. Masa pertunangan, dimana sang wanita masih tetap tinggal bersama orang tuanya. Dan, masa perkawinan, dimana sang pria menjemput sang calon isteri. Masa pertunangan, seturut Hukum Taurat(bdk. Ul. 24:1) dapat dibatalkan karena kondisi tertentu, seperti yang dialami Maria. Namun, karena Yusuf baik, maka pembatalan akan dilakukan diam-diam. Tetapi, karena diingatkan oleh malaikat Tuhan, pernikahan tetap berlangsung, dan Yusuf menjadi bapak sang Bayi suci, dan memberi nama sesuai yang dikabarkan. Tentang kelahiran Sang Bayi, sesungguhnya sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya di jaman raja Ahas (Bacaan pertama). Yaitu, tentang seorang dara akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan dinamai Imanuel: Allah menyertai kita.

+++

Apa yang dapat kita maknai untuk kehidupan beriman dari Injil suci dan Bacaan untuk Minggu ini?

Pertama, sebaiknya kita berusaha memahami bahwa yang ditekankan dalam nubuat Yesaya,  yaitu kelahiran “Sang Imanuel”, yang artinya, “Allah menyertai kita”. Mulai saat itu, kehadiran Sang Imanuel memang menyertai kita sepanjang zaman. Dan ini ditekankan lagi di akhir Injil menurut Matius, yaitu sabda Yesus, “…ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”(Mat.28:20).

Kedua, mengabarkan kabar keselamatan merupakan tugas utama seorang Rasul. Demikian yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma(Bacaan kedua). Tugas perutusan kita di dunia juga sebagai rasul (jaman kini). Maka selayaknya  kita ikut mewartakan kabar gembira ini, dengan cara hidup kita di Lingkungan masing-masing.

Ketiga, belajar dari Yusuf yang tulus hati. Yaitu, mendengarkan sabda-Nya dalam setiap situasi yang ‘menentukan’ dalam kehidupan, sebelum mengambil sebuah keputusan.

Akhirnya, selamat  merayakan Ekaristi Minggu Adven keempat, semoga ‘sudah siap’ menyambut Sang Imanuel, sambil dengan gembira ikut melantunkan mazmur bagi-Nya,

“Tuhan akan datang. Dialah Raja Kemuliaan!”

(Mzm. 24:7c.10b).

Shalom