SUMBER RAHMAT

SUMBER RAHMAT

Tetapi ketika mereka datang kepada Yesus dan melihat bahwa Dia sudah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang prajurit menusukkan tombaknya ke lambung Yesus, dan seketika itu juga darah dan air mengalir keluar. Yohanes 19:33–34

Injil Yohanes penuh dengan gambaran dan simbolisme rohani yang mendalam. Jelaslah bahwa gambaran dan simbolisme ini diilhami secara ilahi sehingga memberi kita makanan rohani untuk refleksi dan meditasi. Salah satu gambaran tersebut diberikan kepada kita hari ini saat kita merayakan Hari Raya Hati Kudus Yesus.

Ketika Yesus dan dua penjahat di sisi-Nya tergantung di kayu salib, para prajurit datang untuk mempercepat kematian mereka dengan mematahkan kaki mereka agar mereka lebih cepat mati lemas. Namun ketika mereka datang kepada Yesus, Dia sudah mati. Jadi salah satu prajurit, yang secara tradisional dikenal sebagai Longinus, menusukkan tombaknya ke lambung Yesus, dan darah serta air mengalir keluar. Beberapa tradisi mengidentifikasi Longinus dengan perwira yang berseru setelah kematian Yesus, “Sungguh, ini adalah Anak Allah!” (Lihat Matius 27:54.) Tradisi lain menyatakan bahwa dia berpindah agama pada saat itu, menjadikannya orang pertama yang masuk Kristen. Dan masih ada tradisi lain yang menyatakan bahwa Longinus tidak dapat melihat dengan baik, dan darah serta air dari sisi Yesus mengalir ke matanya, menyembuhkannya. Terlepas dari apakah tradisi-tradisi ini benar atau tidak, kita tahu bahwa lambung Yesus ditusuk dan darah serta air mengalir keluar.

Simbolisme dari tindakan ini lebih dari sekedar simbol manusia. Itu adalah instrumen realitas spiritual mendalam yang sedang terjadi pada saat itu. Ketika Hati Kudus Yesus ditusuk, darah dan air yang tercurah merupakan kehidupan sakramental baru Gereja. Darah adalah Ekaristi Mahakudus dan Air adalah anugerah Pembaptisan. Dan ketika Yesus sebelumnya “menghembuskan napas terakhir” dan “menyerahkan Roh-Nya,” Sakramen Penguatan pun dianugerahkan.

Ketika kita merayakan Sakramen-sakramen tersebut saat ini, mudah untuk melihatnya hanya sebagai simbol dari apa yang kita ambil. Namun dalam Tradisi Kristen kita, Sakramen-sakramen itu lebih dari itu. Simbol juga merupakan realitas. Ini adalah instrumen dari apa yang dilambangkannya. Oleh karena itu, setiap kali kita menyaksikan Pembaptisan atau mengambil bagian dalam Ekaristi Kudus, kita secara mistik hadir bersama Longinus, menerima rahmat dan belas kasihan penebusan kita, yang dicurahkan dari lambung Yesus yang terluka, untuk menyembuhkan dan menjadikan kita utuh.

Jantung manusia, secara fisik, adalah organ tubuh yang bertanggung jawab untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Namun dari sudut pandang spiritual, mengingat kita adalah tubuh dan jiwa, hati manusia juga merupakan sumber kehidupan kita. Tanpanya, kita mati secara jasmani dan rohani. Begitu pula dengan Hati Kudus Yesus. Bukan hanya jantung fisik yang secara fisik tertusuk tombak sejak lama. Hal ini juga merupakan sumber kehidupan rohani kita yang berkelanjutan, dan tanpa Hati Kudus Yesus yang penuh belas kasihan, kita akan mati dalam dosa-dosa kita.

Renungkan, hari ini, tentang Hati Yesus Yang Mahakudus. Pandanglah Hati-Nya sebagai sumber berkelanjutan bagi kehidupan baru Anda dalam rahmat. Pahami bahwa Hati-Nya lebih dari sekedar simbol rahmat dan belas kasihan-Nya, namun hati-Nya adalah sumber spiritual dan sumber rahmat itu. Dengan penuh doa, tempatkan diri Anda di hadapan Salib-Nya, pada hari ini, dan izinkan darah dan air mengalir dari lambung-Nya yang terluka, menyelimuti Anda sehingga Anda juga dapat percaya.

Hati Yesus Yang Mahakudus, Engkau mencurahkan kepada dunia cinta dan rahmat rahmat transformasi-Mu melalui instrumen darah dan air yang mengalir dari lambung-Mu yang terluka. Bantulah aku untuk menatap wadah rahmat ini dan ditutupi olehnya melalui pemberian Sakramen. Semoga aku selalu terbuka terhadap semua yang ingin Engkau berikan kepadaku melalui instrumen cinta-Mu yang berharga dan mengubah ini. Hati Kudus Yesus, kasihanilah kami. Yesus, aku percaya pada-Mu.(komsos/Sumber)