“Tinggal di dalam Yesus dan berbuah”

“Tinggal di dalam Yesus dan berbuah”

HARI MINGGU PASKAH V

 

Tinggal di dalam Yesus dan berbuah

 

Kis.  9:26-31; 1Yoh.3:18-24; Yoh.15:1-8

 

Pada Pekan kelima Paskah ini, kita diberikan pengajaran oleh Sang Guru mulia. Memakai sebuah majas, seuntai kiasan. Yaitu tentang pokok anggur.

Bacaan Injil menurut Santo Yohanes, dapat dibagi dua: Siapakah Yesus itu?, dan siapakah kita? “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.”  Itulah bagian pertama. Yang kedua, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya…” Siapkah kita untuk menjadi ranting Pokok Anggur itu? Sebelum berusaha untuk menanggapi, mari kita dalami, sedikit lagi: Yesus diibaratkan pokok anggur. Dan, dinyatakan sebagai pokok anggur yang benar! Siapa pemiliknya? Tak lain, “Bapa-Ku, Allah sendiri!” Disabdakan apa yang akan terjadi: jika kita, sebagai ranting, berbuah atau tidak. Diingatkan pula, kita akan berbuah, entah banyak, entah sedikit, sebagai ranting, hanya bila kita tetap bersama sang Pokok Anggur. Dan, kita ada dalam pemeliharaan Sang Bapa: entah berbuah atau tidak. Bahkan, kita diajak untuk tinggal di dalam Dia. Dan jika demikian, Dia akan tinggal di dalam kita. Dan…, kita akan berbuah banyak!

+++

Dalam Bacaan pertama, diceritakan bagaimana Saulus bergabung dengan saudara-saudara di Yerusalem.      Pada awalnya, banyak yang curiga dan tidak percaya, bahkan takut. Takut, mengingat reputasi atau masa lalu Saulus. Namun, berkat penjelasan Barnabas, seorang Lewi, yang disertai bukti, saudara-saudara di Yerusalem mulai bisa menerima Saulus. Barnabas menceritakan bagaimana Saulus, sejak ditangkap Yesus, dalam perjalannya ke Damaskus, dengan niat menangkap para pengikut Jalan Tuhan, ikut memberitakan dan mengajar di Damaskus dalam nama Yesus. Maka, Saulus menjadi salah seorang yang mengajar tentang Yesus, Sang Mesias, di Yerusalem dan sekitarnya. Begitu penuh semangat Saulus mengajar dan bahkan berdebat dengan umat, hingga timbul niat orang Yahudi(Helenis) untuk membunuh Saulus. Oleh karena itu, anggota-anggota jemaat membawanya ke Kaisarea, dan, dari sana ke Tarsus, kampung halaman Paulus. Dan, Paulus, memasuki masa paling gelap dalam kehidupannya, yaitu sekitar 7-8 tahun, sebelum Barnabas, kembali mengajaknya. [Bagi umat yang berminat mengenai masa ini, silahkan menyimak pengajaran Bapak Uskup Kardinal dalam Api Karunia Tuhan, Bagian 2 tentang Paulus].

+++

Bagaimana kita mencoba memahami majas pokok anggur? Bagaimanakah, agar kita bisa memuliakan Allah?, dalam kehidupan sehari-hari? Yesus memberikan jawaban: jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”  Itu bisa jadi sebagai pelajaran yang pertama. Selanjutnya, mari kita cermati apa-apa yang terjadi pada Paulus, sang Rasul yang agung itu. Dari Bacaan pertama, kita memetik pelajaran berarti: sering terjadi, juga pada masa kini, seseorang dicap atau divonis berdasarkan masa lalunya. Bisa jadi masa lalu itu kelam sesuai dengan fakta. Namun, yang sering dilupakan adalah bahwa seseorang bisa berubah. Dalam kisah ini, kita bisa belajar dari Barnabas, yang bisa melihat kelebihan Paulus, walau dengan masa lalu kelam. Berkat usaha Barnabas, Paulus dibawa ke Antiokhia. Di sana, mereka mengajar banyak orang bersama-sama, sehingga tertulislah: “Di Antiokhialah murid-murid itu pertama kalinya disebut Kristen.” (bdk. Kis. 11:25-26). Dengan ini kita dapat menyatakan bahwa orang lain atau saudara, bisa menjadi jembatan untuk mengenal Kasih Yesus.

Selamat merayakan Ekaristi di pekan kelima Paskah 2021. Semoga, umat yang dikasihi Tuhan Yesus, umat paroki Jatiwaringn bisa menikmati Kasih-Nya, sambil menyandungkan:

“Segala ujung bumi akan mengingatnya, dan berbalik kepada TUHAN, dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.” (Mzm. 22:28)

Shalom...