Menolak di tuntun orang buta ?

Menolak di tuntun orang buta ?

Renungan Harian, 11 September 2020

Menolak di tuntun orang buta ?

Bacaan I : 1 Kor. 9 :16-19.22b-27, Mazmur : 84:3-4.5-6.12; R:2, Bacaan Injil  : Luk. 6 : 39-42

 

“Dapatkah orang buta menuntun orang buta ?”, sepertinya pernyataan Yesus ini sangat keras dan tegas. Walau dalam bentuk perumpamaan, seperti kebiasaan Yesus dalam mengajar, sepertinya kita tidak terlalu sulit menangkap maksudnya. Apalagi di ayat 42 dengan sangat jelas Yesus menegur mereka yang hidupnya penuh dengan kemunafikan yaitu mereka yang tidak mau atau tidak memiliki kehendak yang kuat menyelarasakan hidupnya dengan ajaran kebenaran yang telah di terimanya. Yesus mengatakan semua ini saat Ia mengajar murid-murid-Nya serta banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Apakah ada yang datang dari Keuskupan Agung Jakarta ? Tentu ada, sebagian dari kita yang sedang membaca renungan ini.

Umat Tuhan yang terkasih, tulisan ini ingin mengajak kita untuk melihat pesan Tuhan Yesus ini dari sudut pandang yang lain. Hidup di jaman modern saat ini, dimana segalanya serba instan dan serba praktis, telah membuat manusia merasa tidak perlu berfikir panjang untuk memperoleh sesuatu. Banyak contoh yang dapat kita lihat di dalam keseharian kita; berapa banyak mereka yang mengaku beragama yang ditangkap tangan oleh KPK karena korupsi ? Belum lagi mereka yang terlibat mark-up pembelian barang di kantor-kantor swasta, penyalahgunaan wewenang yang kesemuanya bermotif keuntungan atau kepentingan pribadi.

Tantangan terbesar bagi kita murid-murid Kristus yang hidup di jaman ini adalah bagaimana agar kita tidak meniru pola-pola perilaku di atas yang oleh banyak orang sudah dianggap biasa di jaman ini. Mereka adalah orang-orang buta dan kita harus tegas menolak dituntun atau tertuntun oleh orang-orang buta tersebut, artinya cara hidup mereka yang mungkin sudah dianggap biasa di jaman modern ini, jangan sampai menjadi cara hidup kita juga. Untuk orang-orang seperti ini, Paus Benediktus XVI dalam suatu kesempatan menyebutnya sebagai atheis praktis yaitu orang-orang yang tidak menolak kebenaran-kebenaran iman atau ibadah-ibadah religius tetapi dengan mudah menganggap itu semua tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari, terlepas dari hidup, tidak berguna. Seringkali, kemudian, orang-orang percaya kepada Allah dengan cara yang mudah, tetapi hidup “seolah-olah Allah tidak ada” (etsi Deus non daretur).

Ada sebuah kesaksian yang cukup menarik. Dalam suatu kesempatan retret Pasangan Suami Istri (pasutri), ada peserta pasutri dimana profesi sang suami adalah seorang pengacara. Selama berpraktek sebagai pengacara, dia kerap menerima kasus perceraian dan diakuinya bahwa menangani kasus perceraian memberi keuntungan yang tidak kecil. Dia mengaku bahwa kasus perceraian yang ditanganinya adalah pasutri yang bukan berasal dari agama Katolik. Diakuinya juga, jika ada pasutri Katolik yang ingin bercerai dia menolak mengambil kasus itu. Retret pasutri ini mengupas banyak hal tentang perkawinan termasuk masalah peceraian yang menurut ajaran Iman Katolik tidak boleh terjadi di dalam sebuah keluarga. Singkat cerita, di sesi akhir retret dimana para pasutri peserta retret boleh memberikan kesaksian, sang Pengacara ini tampil ke depan dan berkomitmen bahwa dia tidak akan lagi menerima kasus perceraian, apapun latar belakang agama pasutri yang akan bercerai itu.

Umat Tuhan yang terkasih, saat kita konsisten dengan jalan kebenaran yang kita pilih dan jalani, mungkin kita dianggap aneh oleh dunia. Saat orang buta menuntun kita untuk menjadi orang buta juga, kita harus tegas menolaknya. Apa yang sedang diajarkan Yesus melalui perikop ini juga berlaku untuk kita. Maka, sangat penting bagi kita untuk mengerti apa kehendak Allah atas hidup kita dan itu dapat kita dapatkan melalui ajaran resmi Gereja. Mari berdoa agar kita tidak mudah terkecoh oleh tawaran dunia dan tanpa sadar kita telah tertuntun oleh orang-orang buta.

Tuhan memberkati.