“Siapakah Sesama Kita?”

“Siapakah Sesama Kita?”

Kisah ‘orang Samaria yang baik hati’, tentulah sudah dikenal umat. Bahkan mungkin sudah sangat di kenal. Beberapa anak, berusia 9-11 tahun, peserta ‘Tutur Kitab Suci’, dalam rangka Pesparani 2019 tingkat DKI, memilih perikop ini. Dengan begitu, kisah yang hanya terdapat di dalam Injil Kristus menurut Lukas, rasanya tidak perlu dikomentari. 

Namun, mari kita coba menulusurinya. Pertama, bukankah kisah itu bagian dari dialog Yesus dengan seorang ahli Taurat?, yang tujuannya untuk mencobai Sang Guru? Dan, kedua, isi pertanyaan yang ingin mencobai itu, tidak tanggung-tanggung!: yaitu “untuk memperoleh kehidupan kekal”(ay. 25). Bukan kesehatan, atau kedudukan, atau harta yang diminta! Apakah ini berarti sang ahli Taurat sudah sedemikian mapan?, dalam arti, sudah mempunyai semua yang diinginkan di dunia? Kehidupan kekal berarti, kehidupan sesudah kehidupan di dunia ini, bukan? Itu pun dilakukan sang ahli Taurat sesudah mendapat pujian dari Yesus atas jawabannya terhadap pertanyaan Yesus.

Menurut Bapak Uskup kita, Bapak Uskup Ignatius Suharyo, perikop ini bagian pengajaran dan pembinaan Yesus kepada para murid-Nya. Yesus mempersiapkan para murid untuk meneruskan karya-Nya. Pengajaran dan pembinaan yang terdiri dari dua langkah. Pembinaan pertama atau dasar yang dikisahkan dalam bab empat hingga sembilan. Dilanjutkan dengan pembinaan lanjut atau pembinaan lebih khusus, yang berlangsung dalam bab Sembilan hingga bab delapan belas (bdk. Suharyo I., Community of Hope, Obor, hal. 14)

Sementara, dalam bacaan pertama, kita dikisahkan bagaimana Nabi Musa mengajak umat pilihan Allah, Israel, untuk memperbaharui perjanjian dengan Tuhan, Allah mereka.  Musa meninta kesetiaan umat Israel untuk tetap setia dengan Taurat. Meminta umat untuk melawan penyembahan berhala. Inti dari perjanjian itu adalah: jika mereka taat, maka segala berkat akan mereka terima. Sebaliknya, jika mereka tidak taat, umat Israel akan dibuang (bdk. Ul. 29:21-27). Perjanjian ini dikenal dengan ‘Hukum berkat dan kutuk’, selengkapnya bisa dibaca dalam Kitab Ulangan (bab 28).

Inspirasi apa yang bisa dipetik dari semua Bacaan suci untuk minggu biasa ke XV ini? Bisakah kita katakan bahwa “mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, pikiran dan kekuatan kita” sebagai persembahan kepada-Nya?, dan juga, mengasihi sesama manusia, seperti mengasihi diri sendiri? Dan, jika disepakati, semoga itu bukan hanya inspirasi, tetapi, lebih lagi, sebagai bagian dari hidup kita seharii-hari?

Bagaimana mewujudkannya?, dalam keseharian kita? Sebagian besar dari kita, juga tidak semua, pastilah sadar bahwa mewujudkannya jauh lebih sulit daripada memahaminya. Marilah kita coba memahami dulu, dengan membaca Sabda-Nya, yang telah ditulis para kekasih Allah, yaitu Kitab Suci, Alkitab. Satu bagian kecil, setiap kali mencoba. Sehingga, suatu waktu, dapat menghayati, “Tetapi firman itu sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.” (ay. 14). Dan semoga, hari hari ke hari, semakin mencintai-Nya, seperti yang diajarkan Rasul Paulus kepada umat di Kolose tentang “Keutamaan Kristus”, yang sesungguhnya, perikop itu (Kol. 1:15-20), merupakan sebuah hymne alias lagu pujian bagi-Nya.

Semoga, Tuhan Yesus memberkati kita semua.