Yesus sebagai Penggenapan Hukum Taurat

Yesus sebagai Penggenapan Hukum Taurat

Yesus sebagai Penggenapan Hukum Taurat

Sir 15: 15-20,1 Kor 2 : 6-10,Mat 5 : 17-37

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesunguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”(Mat.5:17-18). Sikap Yesus jelas dan tegas terhadap hukum Taurat, yang menjadi hukum bangsa-Nya, bangsa Yahudi. Bahkan dilanjutkan dengan peringatan bagi siapa saja yang mencoba meniadakan salah satu perintah yang paling kecil sekali pun(iota huruf terkecil dalam alfabet Yunani) dan mengajarkan demikian kepada orang lain. Namun, sebaliknya, bagi yang mengajarkan hukum Taurat sesuai yang tertulis, akan mendapat ganjaran positif.

Bagi orang Yahudi, Taurat adalah pengajaran, hukum-hukum, aturan yang terdapat dalam kelima kitab pertama dalam Alkitab. Jika dijumlah, kata seorang ahli, maka ada 613 hukum. Dan semua hukum ini diajarkan, disampaikan secara lisan, dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Dan, seturut ahli pula, jemaat Matius adalah orang-orang Yahudi, yang menjadi pengikut Kristus.

Dalam Bacaan pertama,Yesus bin Sirakh telah menuliskan, yang tentunya juga jadi pembelajaran: bahwa sejatinya, manusia dikarunia kebebasan untuk memilih, “Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setia pun dapat kaupilih. Api dan air telah ditaruh oleh Tuhan di hadapanmu, kepada apa yang kaukehendaki, dapat kauulurkan tangannmu.”(Sir.15:15-16). Jelas ditulis di atas: ...kau kehendaki... Dengan begitu, kehendak manusia lah yang lebih banyak menentukan setiap perilaku yang dipilih, termasuk apakah hendak memahami hukum-hukum dan melakukannya; termasuk juga, mewartakannya (mengajarkan) melalui perilaku sehari-hari.

+++++++

Dengan lebih mendalami setiap hukum dalam Taurat, Yesus mengajak pengikut-Nya untuk lebih memahami makna aturan yang ada. Bukan sekedar ‘berbuat sesuai aturan atau hukum’,tetapi lebih mendalami makna yang terdapat dalam aturan atau hukum itu. Misalnya, aturan “jangan membunuh”, yang dilanjutkan bahwa siapa yang membunuh, maka dia pun akan dibunuh. Namun, kita layak lebih mendalami maknanya,yaitu bahwa larangan itu tujuannya untuk melindungi kehidupan, bukan? Dan Siapa yang sesungguhnya Pemilik kehidupan? Tentu kita sepakat: Allah. Dengan mengikuti larangan itu, maka kita sesungguhnya ikut memelihara ciptaan-Nya, bukan?

+++++++

Bagaimana memetik inspirasi dari kisah dalam Injil dan Bacaan untuk minggu ini? Dari Bacaan pertama, kita dapat memetik ‘buah’ perikop itu. Yaitu, manusia bisa menentukan kehendaknya, atau, bisa memilih: atau mau mengikuti peraturan, atau, menjalankan maunya (kehendaknya) sendiri.Contoh sederhana adalah, mau mengisi celengen dua ribu Rupiah per hari, atau, dengan caranya sendiri. Atau, sebentar lagi, masa ‘puasa’ tiba. Dalam aturan Gereja, puasa pun mempunyai pilihan. Silahkan dipilih sendiri. Contoh lain adalah, perilaku kita dalam bersosialisasi melalui media. Mau sekedar memberikan ‘jempol ke atas” atau ‘jempol ke bawah’? Bisa saja.Namun, bukankah ada aturannya?, termasuk tata-kerama dalam pergaulan? Apakah kita ‘orang katolik’ hanya sekedar ikut terlibat, atau, mau berbuat sesuatu yang baik bagi kehidupan?

Atau, paling tidak, kita ingat apa yang diajarkan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, :”Apa yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya.”(1Kor. 2:9).

“Selamat merayakan Ekaristi, menghadiri undangan Tuhan Yesus.”